Minggu, 20 September 2015

Setidaknya ada yang kusyukuri di tengah ramainya pikiranku tentang keadaan yang tak begitu baik ini.

Adanya kamu. :)

Tuhan Mahabaik memang tentang segala hal yang sama sekali tak ada dalam kepalaku.

Dia menitipkan kamu dalam hatiku :)

-Antengrlalanissa-

Senin, 24 Agustus 2015

Membisikimu, Syarifah

Syarifah.. Iya kamu..
Mari sini, aku ingin membisikimu sesuatu.

*Dengan senyum malu-malu, kamu mendekatkan telingamu*

Seperti ini aku membisikimu...

Akhir-akhir ini aku sering disapa oleh rekan-rekanku.
Mereka bukan hanya menyapa dan menegur bahkan curhat.

Terkadang aku lewat toko. Rekan-rekanku menyapa.
Seperangkat alat sholat dan emas sekian gram.

Aku lewat hajatan. Kawan-kawanku  juga menegur.
Pelaminan beserta perangkatnya.

Aku lewat KUA pun sering dipanggil untuk mampir sejenak.
Sepasang buku mirip paspor berwarna merah dan hijau.

Bahkan aku lewat masjid. Masjid pun mencurahkan isi hatinya.
Ia rindu lantunan suci nan sakral ijab qobul. Rindu kehadiran wali, mempelai, dan penghulu.

Bagaimana? Kamu dengar semua dengan jelas bisikanku?


-Danubrata Dadang-
24 Agustus 2015

Minggu, 23 Agustus 2015

Terpisah Sementara

Syarifah...
Genggamlah jantungku.
Hitunglah detaknya.
Sebanyak itulah rinduku padamu.

Tidakkah engkau tau...
Walaupun jarak kita laksana timur dan barat...
Tapi bait frasa, bait harap ini selalu teruntai selaksa air
yg turun dari bukit ke lembah...

Hari berganti hari.. Bulan berganti bulan..
Masa lalu pun menatap dengan nanar...
Masa kini yang penuh dengan gelombang hampa...
Layaknya tanah berdebu yang lama tak terkena hujan..

Ini resahku, mungkin juga resahmu.
Tapi tenang saja Syarifah... Aku yakin...
Karena kita hanya terpisah sementara, selebihnya kita
akan bersama...

-Danubrata Dadang-
23 Agustus 2015

Selasa, 09 Juni 2015

Terimakasih, Danubrata


A gift from me...

"Ketika menggunakan hati dan logika yang jernih, kita tersadar.

Sesungguhnya wanita bukanlah seperti piala yang diperebutkan antar mereka yang adu strategi agar menang.

Bukan seperti kompetisi yang mengharuskan ada jawara ditiap akhir laga.

Bukan seperti seleksi alam yang pada akhirnya yang terhebat yang bertahan.

Bahwa wanita lebih mulia sekedar hal remeh-temeh tersebut.

Wanita telah dipersiapkan satu, agar dipertemukan dengan satu pria juga.

Wanita yang pantas akan bersanding dengan pria yang berkualitas.

Pria yang kurang berkualitas hanya akan membawa cinta di dada dengan sekonyong-konyong 'aku suka kamu' atau 'aku sayang kamu' dan kata pemanis tapi terdapat kontra indikasi.

Sedangkan, pria yang berkualitas akan paham, bahwa cinta yang dilanjutkan dengan kasih sayang akan membawa pada rasa yang menentramkan."

Selamat ulang tahun Anteng Rairiati Lalanissa

Danubrata Dadang, 9 Juni 2015

Minggu, 24 Mei 2015

#3

Sunyi melihat doa dan rindu menyimpul jadi satu. Lantas mereka berlari mencapai dadamu. Tetapi sayang, di kepalamu tak ada aku.


-Antengrlalanissa-

Selasa, 05 Mei 2015

PERGIMU

Langit terlihat gelap sekali. Akan hujan, pikirku. Kulirik lagi jam tanganku untuk yang entah sudah keberapa kalinya. Satu setengah jam aku menunggu kamu tiba masih di taman yang sama dan di kursi tempat kita biasa bercengkrama. Pada pesanmu tiga puluh menit yang lalu, sudah dekat, katamu.
...
Langit terlihat semakin gelap. Aku cemas. Kamu di mana? Tak juga kamu balas pesanku. Ada apa ini? Aku merasa jantungku berdegup cepat sekali. Aku masih menunggu.
...
Gerimis mulai merintik. Aku masih diam, mengamati sekitar barangkali kulihat kamu berlari kecil di antara kerumunan orang-orang yang bergegas mencari tempat untuk berteduh. Aku tak lihat kamu. Kamu kemana?
...
Gerimis menderas. Aku bangkit lantas bergegas menghampiri pohon terdekat yang sekiranya bisa melindungiku dari hujan ini. Belum juga kulihat kamu. Kulihat ponselku. Tak juga ada kabar darimu. Aku mulai berpikir tak tentu.
...
Setengah jam berlalu. Hujan berhenti menyisakan warna daun segar dan kecipak basah pada rumput dan bangku taman. Terlihat semakin indah, tetapi aku masih cemas. Apakah kamu baik-baik saja?
...
Sudah pukul empat. Artinya sudah dua jam aku menunggumu dari waktu yang kamu tentukan sendiri. Ya, kamu selalu menentukan waktu untuk kita bertemu dan aku, sesibuk apa pun itu, tak akan pernah membantahmu. Itulah cinta, ada untuk selalu siap sedia, pikirku.
...
Ahh, itu kamu. Tergesa sekali menghampiri aku. Aku berdiri tersenyum menyambutmu. Menunggumu tiba di depan mataku lantas bisa melihat senyummu kemudian menggenggam tanganmu. Kemudian kita bercerita tentang bagaimana kamu tanpa aku beberapa hari ini. Aku tak sabar. Senyumku semakin lebar. Aku tak sabar. Aku tak sabar.
...
Tunggu! Kulihat dari jauh, mukamu kusut sekali. Kamu menangis? Ada apa? Kamu kenapa? Astaga.... Aku maju menyambutmu. Kamu berlari menghampiriku.
...
Kamu memelukku erat sekali. Menangis sejadi-jadinya. Aku memelukmu tak kalah erat. Andai pelukanku menyerap semua sedihmu, aku bersedia.
...
Kutenangkan kamu. Kuhapus air matamu. Kuusap punggungmu. Kugenggam tanganmu. Kulakukan apapun itu yang bisa menenangkanmu. Betapa ingin sekali kuteguk habis sedihmu. Tolonglah, cinta pertamaku. Jangan menangis. Jangan. Aku bisa mati melihat air matamu. Berhentilah menangis. Ceritakan padaku perkara sedihmu.
...
Kamu menghapus air matamu, lantas menoleh dan tersenyum menghadapku. Cantik sekali. Kamu terlalu cantik dan selalu cantik. Tuhan terlalu sempurna mengukir wajahmu barangkali. Atau Tuhan sengaja agar ada keindahan yang selalu bisa kupandangi. Kamu.
...
“Selamat Tinggal, Guntur.” Katamu pertama kali.
...
Aku mengerutkan kening, menyatukan alisku. Ada apa ini? Kamu mau kemana? Ada apa? Kenapa kamu mengucapkan selamat tinggal? Apakah ada salahku yang menyakitimu. Beritahu aku. Jangan membuatku takut seperti ini. protesku.
...
“Aku akan kembali ke daerahku. Ibu meminta aku pulang. Ayah dan ibu bilang mereka akan menikahkan aku dengan lelaki pilihannya. Kamu tahu, aku tak akan pernah membantah mereka kan?” Ucapmu sambil menyeka ujung matamu yang kembali basah.

“Aku cinta kota ini sebab aku telah lama menjadi bagiannya. Kota ini penuh cerita. Berat rasanya membawa raga jauh dari sini. Aku suka sekali taman ini dan bangku ini. Terlebih, aku selalu suka sebab selalu ada kamu di sini. Tapi aku bisa apa?” Suaramu makin tak terdengar.
Isakmu semakin mendesak. Percayalah, perih sekali melihatmu menangis seperti ini.
...
Basah sekali hatiku. Hancur rasanya mendengarmu berkata seperti itu. Apa katamu tadi? Menikah? Bercandakah ibu dan ayahmu? Tidakkah mereka berpikir kamu bisa sendiri menemukan cinta sejatimu? Tidakkah mereka tahu kamu mampu menuliskan sendiri masa depanmu? Kamu tak perlu dijodohkan! Seperti apa lelakimu? Bagaimana sikapnya padamu? Sudahkah kamu pernah bertemu? Bagaimana dia akan memperlakukanmu? Apakah nantinya dia akan menyakitimu? Tidak bisakah kamu membantah mereka? Tidak bisakah kamu bilang tidak barang sekali saja? Tidak bisakah kamu menceritakan ini lebih dulu kepadaku? Aku tidak siap, Sa!
...
Aku sendu. Tak lagi bisa berpikir mendengar beritamu. Aku ... entahlah.... Kacau sekali aku.
...
“Aku sudah memesan tiket kepulanganku malam ini. Mungkin aku tak akan pernah kembali ke sini. Maaf, aku baru memberitahumu. Entah, aku hanya tak sanggup saja memberitahumu dari waktu-waktu yang lalu.”
“Aku harus kembali Guntur.” Katamu sembari memaksa senyum dan menggenggam tanganku. “Berjanjilah padaku untuk selalu baik-baik saja. Aku akan terus menghubungimu setibanya aku tiba di Lampung nanti. Jangan sedih. Sejauh apa pun jarakku, kamu adalah sahabat terbaikku. Doaku menyertaimu.” Kamu tersenyum, manis sekali. Dan hatiku perih sekali.
...
“aa huuu zeeee eghhh...” Aku memprotesmu. Kugeleng-gelengkan kepalaku. Tanganku menjelaskan kata-kata yang tak bisa kusuarakan. Aku meracau. Aku kacau.
...
Kamu menangis semakin deras. Aku menahan tangis semakin keras..
...
Aku tak sanggup, Sa. Aku tak sanggup.
Bagaimana aku bisa melepas cinta pertamaku untuk menikah dengan lelaki yang tidak kutahu? Aku takut dia tak bisa menjagamu. Aku Sa. Aku yang sedari kecil menjadi sahabatmu. Aku yang sedari dulu menjagamu. Aku yang mencintaimu. Aku yang... Arrrggggghhh... Tidakkah kamu tahu????
...
“Aku sayang kau, Guntur. Aku sayang kau. Maaf tak bisa lagi bersama. Berjanjilah selalu baik hidupmu. Aku sayang kau.”
...
Aku tak bersuara. Hanya menatap wajahmu, menghapalnya sebisaku. Tiap lekuknya. Sorot matamu. Senyummu. Cara bicaramu. Suaramu.
Dalam sendu, kubalas senyum paksamu. Kugenggam tanganmu. Kuanggukkan kepalaku, lantas memelukmu.
Kau cintaku, Lanissa. Selamanya akan menjadi cintaku. Berbahagialah selalu, meski bukan denganku. Berjanjilah.
...
Kamu mengangguk seperti mendengar hatiku. Lantas kita tersenyum malu. Kemudian tertawa. Hahaha. Aku akan rindu suaramu.
...
Kamu keluarkan sebuah buku. Album foto ternyata. Semuanya foto kita. Dari kita yang masih SD kelas 5 saat aku main ke rumahmu dan ayahmu baru saja membeli kamera baru sampai foto kita saat terakhir kali bertemu 3 hari yang lalu. Manis sekali foto itu. Kamu bersadar di dadaku dan kita tersenyum senang sekali ke arah kamera. Ternyata untuk hari ini tawamu kemarin itu ada. Aku tak sempat curiga.
...
Langit mengelam, hari mulai malam.
Kukecup keningmu dan kamu balas mengecup pipiku. Kita berpelukan. Kemudian berfoto untuk terakhir kalinya. Kamu memelukku kembali, erat sekali. Aku tak mau kalah, kupeluk kamu sekaligus hatimu. Barangkali untuk terakhir kali. Hati-hati, Sa.. ucapku dalam hati.
...
Kupaksa mengantarmu ke terminal tapi kamu tak mau. Aku bisa apa selain menurutimu? Kita berpisah di taman itu.
...
Aku menangis sejadi-jadinya dalam perjalanan pulangku. Kacau sekali aku ditinggalkanmu.
...
“Bus sudah berjalan. Entah kapan kita bisa berjumpa lagi. Jaga dirimu. Terima kasih Tuhan telah meletakkan aku dalam ceritamu. Kau sahabat terbaikku, Tur.” Isi dalam pesanmu.
...
“Aku mencintaimu, Sa. Kacau sekali aku kehilanganmu. Habislah aku.” Ketik jari-jariku.
....
“Hati-hati, sahabat terbaikku. Kirimi aku kabarmu, sebisamu. Aku dan kota ini selalu rindu kamu.” Kirimku untukmu.



Tamat.
Antengrlalanissa


Bandarlampung ,4 Mei 2015. 20:18

Senin, 27 April 2015

#2

Aku pencinta yang tak malu-malu.
Kamu mungkin akan ragu.
Tapi, sini.
Kupeluk dulu kamu.

-Antengrlalanissa-

Minggu, 26 April 2015

#1

Pada setiap senyum yang kamu punya, mungkin ada sisa duka yang melekat di sana.
Kuatlah.
Sebab ada yang mengagumi senyummu tanpa tahu luka-lukamu.


-antengrlalanissa-


Minggu, 12 April 2015

Kutulis aku untuk kamu.

Menulis kisah cinta itu tak pernah ada habisnya.
Menulis puisi cinta juga tak pernah ada matinya.
Segalanya tentang cinta memang tak pernah ada batasnya.

Anggaplah aku gemar menulis perasaanku.
Mencetak sajak-sajak merah jambu atau melukiskan kelabu.
Menceritakan aku. Semuaku.

Kelak,
Ketika aku tak lagi ada, supaya kamu tak khawatir hendak merindukan aku kemana.
Kutulis aku untuk kamu baca sewaktu-waktu.
Mengenangku.

Kutulis aku. Dan mungkin nanti berikut tentang kamu.
Sebab. Inilah caraku mencintaimu dan menghidupkan aku. Dalam kamu.

-Antengrlalanissa-

Maukah Kamu?

Aku selalu tertawa banyak-banyak mengingat aku.
Betapa hidup mengajarkan kebandelan-kebandelan yang tak satu-satu.
Betapa semesta menghadirkan penggal-penggal kisah yang selalu baru.
Betapa semesta juga dengan baiknya membungkus yang lalu-lalu.
Tanpa celah yang sekiranya akan menyulitkan aku membawanya dalam perjalanan-perjalananku.

Ada wajah teman-teman SDku. Ada kisah-kisah seru, dulu. Ada masa kecil yang kupikir masa kecil terseru yang pernah ada dalam pentas semesta.

Lantas ada wajah-wajah dalam keseharianku meremaja. Sahabat-sahabat SMP. SMA.
Kisah-kisah terkeren yang kupikir selalu bisa kubaca kapan saja di masa tua.

Kemudian ada wajah-wajah kalian semua yang menemani saat mendewasa.
Merangkai cerita yang nantinya akan kudongengkan pada semesta.

Ada wajahmu juga. Aku tahu.
Kiranya...
Maukah kamu mendongeng bersamaku? :)

-Antengrlalanissa-

Senin, 23 Maret 2015

Iya-in Aja (3)

Apalah aku yang hanya berupa keping-keping rindu. Merinduimu yang selalu merinduinya. Sedang berhenti aku tak bisa.

Kusebut kamu malu-malu dalam doa. Tetapi malaikat bilang, kau selalu menyebut namanya.
Sedang di langit jumlah doa kita sama.
Aku yang dapat kamu atau kamu yang dapat dia?

Entahlah.

Apalah.

Sudahlah.

Biarkan saja doa ini terselip di lipatan-lipatan langit.

Biarkan mereka mencari tempat sembunyi sendiri-sendiri.

Biar saja mereka lari. Biar saja mereka tak kembali.

Biar saja kita seperti ini. Sebab aku dan kamu adalah kisah yang belum berhenti.

-Antengrlalanissa-
Yang tengah malem masih seger matanya. Ntah nulis apa, pokoknya iya-in aja.
:))

Iya-in Aja (2)

Akan selalu ada wanita yang lebih dari saya, tetapi saya percaya..
Akan ada lelaki yang ikhlas dan sedia menerima saya apa adanya.
Diterima apa adanya bukan berarti membuat saya memberi seadanya, bukan?

Akan selalu ada lelaki yang lebih dari lelaki yang nantinya bersama saya.
Tetapi saya percaya, dia yang dipercaya Tuhan untuk saya jaga adalah yang terbaik menurut versi-Nya.

Betapa banyak sesuatu yang saya (paksa) anggap baik, ternyata lebih baik jika tak bersama atau tak saya punya.
Betapa ada juga yang saya (paksa) kira tidak baik, ternyata adalah kebaikan yang sebenarnya.
Betapa Tuhan itu Mahabaik, hanya saja kadang saya terlalu memaksa apa yang saya pinta padahal sebenarnya Tuhan selalu memberi lebih dari perkiraan saya.

Semesta kerap senang bercanda dan saya dengan bodohnya terlalu serius menanggapinya.

:))

Untuk seseorang yang akan menjadi "sahabat" saya nantinya,

Mari kita susuri semesta, membuat banyak cerita, muda dalam menua, hidup lucu bersama, dan bahagia dengan cara kita di jalan-Nya.

Saya selalu percaya dengan nasihat lama..
"Semua akan indah pada waktunya"

Semoga kamu juga percaya.


-Antengrlalanissa-

Selasa, 17 Maret 2015

Sini Kuberi Tahu

Menurutmu aku hanya mencintai lewat kata-kata?
Sini.
Dekat denganku.
Coba buat aku jatuh cinta.
Dan kubuat kamu bilang : dicintai itu luar biasa.          

Kamu bilang, aku punya banyak cerita lama. Menyimpan rangkaian nama-nama.
Kuakui : Ya. Aku belajar berkat mereka. Dan inilah aku yang kini dikenalimu. 

Kamu permasalahkan aku yang dulu.
Masih kubilang : ini aku. Yang sekarang. Mencintaimu dan memperbaiki diri untukmu. Jika laluku masalah buatmu, kemudian, kubuka pintu lebar-lebar untuk kamu silakan pergi.

Kamu tanya apa aku untuk yang dulu masih menyimpan perasaan?
Dengar sini.
Kubilang padamu aku menyimpan kenangan.
Perkara perasaanku..
Ini.
Pahami dan rasakan sendiri.

Kamu diamkan aku sebab aku diamkanmu.
Baik.
Kuberitahu kamu sesuatu.
Dengan siapapun nanti aku muda dalam menua
Kubilang: kamu sekarangku.

Jika adalah kamu, maka sepanjang hidupku, hanya akan ada kamu dan masa depan kita.
Jika bukan kamu,
Maka akan ada dia yang nanti kusebut sebagai sekarangku dan masa depanku.

Kamu pikir aku mudah berpindah hati?
Tidak. Sama sekali.

Tunggu.
Coba kupikir sekali lagi.

Kujawab kali ini : Ya
Tidak mudah, tetapi tahulah, aku bukan hati yang mudah menyerah

Aku dilengkapi hati secanggih itu dari Tuhanku.
Menerima keputusanNya.
Jika sulit, maka dekatkan diri.
Setelah itu,
Dia akan memberi kisah yang lebih baik dari sakit hatiku.

Kamu takut aku pergi?
Sini.
Genggam tanganku.
Lihat, sekuat apa bertahanku dalam genggamanmu.

Dengar sini.
Aku bicara.

Aku tak akan berlama-lama dan berpanjang-panjang cerita.

Ini aku.
Aku dulu, sekarangku, dan masa depanku.
Ini sajadahku, siap kubentang dibelakang sajadahmu.
Ini bandelku, mau dibimbingmu.

Ini aku.
Dengan semuaku.

Paham, sekarang?

Seperti ini kuberi tahu kamu.



-Antengrlalanissa-

Ini Aku

Kuperkenalkan padamu, ini aku.
Jika kamu tanya aku sedang apa, maka akan kujawab sedang membereskan hatiku.
Jika kamu tanya, aku membereskan hatiku dari apa, maka kujawab lagi dari masa lalu.
Aku tak mau lagi mengotori hatiku.
Itulah sebabnya, kubersihkan sebersih-bersihnya dari yang lalu lalu.
Agar kamu nyaman menempati hatiku yang baru.
Lantas kita bisa bercinta di sana tanpa malu-malu.
Selamanya.
Hanya aku. Kamu. Kita.



-Antengrlalanissa-

Jumat, 13 Maret 2015

Hatimu itu seperti pulangku di masa depan nanti, Tuan.
Entah karena itu satu-satunya jalan atau sejauh apapun aku mencari persimpangan, tetap hatimu sebagai tujuan.

Tak paham.

Aku berjalan menuju perhentian. Dan sungguh, di tiap-tiap langkahku menujunya, tak luput kuminta kamu sebagai berhentiku.

Rahasiaku.
Kepada Tuhan aku tak malu-malu memintamu.
:)

-Antengrlalanissa-

Senin, 09 Maret 2015

Aku Tahu Dia


Aku kenal seorang wanita
Parasnya biasa saja tetapi kupikir dia memesona.
Setidaknya aku terpesona sebab kulihat ia berusaha membawa tawa di mana saja.
Semacam luka seperih apa jika kau bersamanya maka sakit itu tak kau rasa.

Aku tahu ia masih banyak kurangnya, tetapi kulihat ia mencoba memperbaikinya. Dan aku senang memperhatikannya.

Aku tahu kisah lalunya.
Kulihat dia pernah terjatuh-bangun-terjatuh lagi-terseok-seok-merangkak-bahkan merayap melewati hari-harinya dan kulihat ia tak menyerah begitu saja.

Aku kenal orang-orang di sekelilingnya. Yang mencintainya, yang belum mencintainya. Yang dirindukannya, yang dibiarkannya. Yang memedulikan, yang mendiamkan. Yang mencoba selalu ada, yang ada saat tertentu saja. Aku kenal semua bagian demi bagian di sekelilingnya.

Aku tahu beberapa kesukaannya. Aku tau
Dia suka jika sedang diomeli ibunya.
Dia suka mendengar ayahnya bicara.
Dia suka menggoda adiknya.
Dia suka memeluk bonekanya.
Dia suka putih-hitam-merah muda- coklat-biru.
Dia suka sekali lagu.
Dia suka sekali bolu.
Dia suka sekali susu.
Dia suka...
Menuangkan cintanya dalam kata-kata.

Selain sukanya, aku rasa aku mengenali beberapa tidak sukanya.
Dia tidak suka tidurnya terganggu.
Dan dia tidak suka perasaan yang palsu.
Kucoba mengingat lagi, tetapi yang kutahu baru itu.

Aku kenal dia.
Dan sadar aku mencintainya.
Aku sayang dia
Dan aku bangga padanya.

((Ucapku sambil berkaca.))

Untuk aku, aku bangga padamu.

-Antengrlalanissa-
 

Sabtu, 07 Maret 2015

Semoga Adalah Kamu

Ini hatiku. Kubiarkan ia ada di genggamanmu.
Lalu terserah maumu akan kau apakan hatiku.

Ini diamku. Kubiarkan mulutku terkunci, tetapi untukmu ada doa yang tak pernah berhenti.

Ini cemburuku. Untuk kamu yang belum tahu bahwa kamu semenarik itu.

Ini sabarku. Bahwa sesungguhnya aku tak pernah memaksa Tuhan membuatmu menerimaku. Aku menunggu.

Demikian seperti itu pengertian aku cinta kamu. Perkara hati demi hati yang kubagi di setiap aku berpuisi : percayalah aku tidak sedang bercanda menuliskannya.

Buatku, tidak cukup kamu sebagai inspirasi. Nanti, semoga hatimu sebagai tempatku berhenti.

Malam ini,
Kuajari kamu bagaimana mengeja "masa depan"

A.K.U.K.A.M.U.K.I.T.A

Seperti itulah kiranya.

-Antengrlalanissa-

Jumat, 06 Maret 2015

Janji Lama dari Surga

aku adalah apa yang mencintai kamu dengan utuh
dan akan menerimamu seluruh
lantas dengan teguh meminta pada semesta 
semoga menjagamu ketika di perjalanan menemukanku

sebab aku telah berdiri di sini
menantimu di perhentian terakhirku
bukankah dulu, kita berjanji temu di sini saat di surga?
kuharap kamu tak lupa..

jika nanti kamu tiba
dan ada banyak perempuan yang terlihat menunggu di sana
bisakah kamu menemukanku di antara mereka?
Jahat sekali aku meragukanmu. Tentu saja kamu bisa!

aku yang berdiri mengenakan gaun putih dengan kerudung putih dan memegang bunga mawar putih
sepatuku berwarna emas
dan aku mengenakan lipstik merah muda yang kamu suka
ahh, ya. aku lupa. ada hiasan mutiara di kerudungku. semoga kamu suka.
aku ingat, seperti itu kamu meminta.

sekarang,
aku di perhentian ini menunggumu.
hati-hati, sayangku.
baik-baik di perjalananmu. Aku mendoakanmu.

salam
perempuanmu.

-Antengrlalanissa-

Senin, 02 Maret 2015

Percakapan : Siapa yang Lebih Rindu

Perempuan Perindu : Untuk sebuah rindu, kupikir ego itu debu. Katamu juga rindu, nyatanya egomu terlalu. Dimana rindunya? Di bibir saja?

Lelaki Perindu : Kadang sebuah tanya ingin kuungkap... Apakah aku masih candumu?
Bila iya, apakah kau tak rindu candumu?

Perempuan Perindu : Aku rindu. Sempat rindu itu juga kupertanyakan. Tetapi tak datang jawaban darimu. Seolah rindu ini tak ada artinya.

Lelaki Perindu : Rindumu seakan sesuatu yang bisa berlalu, sedangkan aku butuh lebih dari sekadar kata rindu, aku rindu yang lebih jadi ego sekarang, aku menuntut rindumu..karena aku pun rindu yang dalam...masihkah aku candumu?

Perempuan Perindu : Kau bertanya, "Masihkah aku candumu?" Sedang selama ini kau hilang? Pikirmu hati ini apa? Pelarian? Atau hanya sebatas sandaran? Sedang aku menunggu pada tiap detik-detik yang telah berlalu. Terlalu lama.

Lelaki Perindu : Sedetikpun aku tidak bersembunyi apalagi hilang...bukankah aku datang sekarang? Tidak pernah terbesit sedikitpun aku menganggapmu seperti yang kau katakan, maaf bila egoku terlalu besar dari rindumu, tapi aku mengakui, aku juga rindu kamu.

Perempuan Perindu : Rindu ini setiap hari memadat membatu. Kupecahkan saja dia agar kembali menjadi debu. Jadi tak akan lagi kurasa rindu. Sebab rindu ini membuat hati tak lagi sehat menurutku.

Lelaki Perindu : Pecahkan saja rindumu. Buat ia menjadi debu. Sedang aku dengan kerendahan hati yang meninggi menyatakan bahwa aku perindu ulung yang menang perkara merinduimu.

Perempuan Perindu : Aku telah lama menang sedang saat itu kau hilang. Kini kau datang, dan rindu ini hilang. Seimbang, bukan?

Lelaki Perindu : Aku tak hilang. Terserah kau. Kau datang dan hilang, rinduku tetap untuk kau seorang. Silahkan pergi, jika nanti lelah ke mana-mana, temui lagi aku di sini. Dirindu yang masih untukmu.

Perempuan Perindu : Jangan menunggu. Mungkin aku tak kembali.

Lelaki Perindu : Kamu akan kembali. Walau tidak sebagai pelengkap jalan cerita hidupku, tetapi kau selalu sebagai penggenap rindu.
Untuk kamu, rinduku abadi.

Perempuan Perindu : Untukmu, rinduku kubiarkan mati.

Lelaki Perindu : Untukmu, rinduku hidup sendiri.

Perempuan Perindu : Untukmu, tak ada lagi 'untukmu-untukmu'. Aku pergi.

Lelaki Perindu : Jangan lupa. Aku rumahmu.

Perempuan Perindu :  :))

*Hati Perempuan Perindu : Aku pulangmu, lelakiku. *



-Antengrlalanissa-

Rabu, 25 Februari 2015

Ini ceritaku. Mana ceritamu?

Aku membuat sebuah cerita.

Kubuat aku menjadi tokoh utama.

Seorang gadis desa biasa yang berkali-kali patah karena cinta.

Kubuat aku memiliki cerita di dalam cerita yang kubuat.

Dalam cerita yang ada di dalam ceritaku,

Aku menemukanmu.

Seorang lelaki yang entah siapa aku belum tahu.

Aku jatuh cinta.

Tak peduli kau pangeran atau rakyat biasa.

Kau ada dan aku bahagia.

Aku bahagia dan hanya tahu bahagia

Walaupun tak kutahu isi hatimu bagaimana.

Dalam cerita yang ada di dalam ceritaku

Menemukanmu adalah mauku.

Dalam ceritaku...

Aku memang menemukanmu.

Aku jatuh cinta.

Tak peduli kau pangeran atau rakyat biasa.

Aku bisa membuatmu seolah raja.

Dalam ceritaku..

Aku menuliskan akhir yang sesuai mauku.

Aku gadis desa biasa

Yang menjadi pilihanmu

Dan kamu adalah apa yang Tuhan pilihkan untukku.

Itu ceritaku.

Itu cerita dalam ceritaku.

Mana ceritamu?



-Antengrlalanissa-

Selasa, 24 Februari 2015

Katakanlah..

Katakanlah untukmu, minatku ada.
Tersedia dengan suka rela.
Tak ada tapi-tapi. Semua memang ada.

Katakanlah untuk tawamu, jenakaku ada.
Konyol di depanmu aku siap sedia. Bahkan, tak perlulah kamu sampai meminta.
                                               
Katakanlah untuk sepimu, aku mencoba ada.
Menemanimu lewat kata demi kata. Maaf saja, di dekatmu aku belum bisa.

Katakanlah untuk sibukku, kamu selalu di kepala.
Menggedor-gedor tiap pintunya sampai aku harus mengikat tanganku agar tak selalu membukanya.

Ya.. banyak katakanlah-katakanlah yang aku sediakan untukmu.
Siap sedia untuk segalamu.
Tak ada tapi tapi dariku.
Tetapi kamu?
Untukku.. ada entah berapa tetapi yang kamu punya.
Aku sampai tak berani menghitungnya sebab takut tahu jumlahnya.

Bagimu, segala tapi-mu itu pantas untukku.
Buatku, segala tapi untukmu itu tak perlu.
Sebab untukmu, meski tak ada alasan aku tetap bertahan.
Untukku, meski kubuat berbagai alasan, kamu tak akan mengiyakan.

Katakanlah aku akhirnya mampu bosan.
Setelah ini mungkin aku pergi. Kulihat,  pulangku bukan untukmu. Sedang hatimu... bukanlah rumahku.

-Antengrlalanissa-

Jumat, 20 Februari 2015

Untuk Semestaku di Dunia

Assalamualaikum ma, pak..

Aku sedikit menulis untukmu.
Tulisan ini ntah bisa kusebut puisi atau doa atau apalah itu namanya. Yang jelas kutulis ini dengan rindu mengiringinya.

Kubilang padaku, ma..
Jangan kalah untuk membuatmu tak marah.
Kubilang padaku, pak..
Tak boleh manja untuk membuatmu bangga.
Kubilang padaku, dek..
Janganlah aku menjadi panutan tidak baikmu.

Sebab andai seluruh dunia ini menjauhiku, maka aku tau akan selalu ada hati yang menerimaku.
Sebab andai tak ada lagi yang mau menemaniku, maka akan selalu ada dadamu sebagai tempat kembaliku, ma.
Sebab andai tak ada lagi yang mau bersamaku, maka akan selalu ada pundakmu yang jadi sandaranku, pak.
Sebab andai tak ada lagi yang mau menjadi hal baikku, maka akan ada tawamu disana yang menguatkan aku, dek.

Aku tak perlu meragu bukan?

Bukankah sejauh apapun adok pergi nanti..
Tetap pelukan mama dan bapak sebagai tempat kembali.
Senyata-nyatanya bahagiaku karena mewarisi darahmu.

Maaf, ma pak..
Untuk menuamu yang belum ada senyum karenaku.
Maaf, untuk gurat di kening dan telapak tanganmu sedang aku belum mampu mengembangkan bahagiamu.
Aku sayang kalian melebihi semesta tempat kita hidup dan mati.

Dan Tuhan,
Sujud seumur hidup pun rasanya bersyukurku tak cukup kepada-Mu.
Atas berkat yang membuatku ada dicerita ini..

Terima kasih untuk memilihkan kedua orangtuaku dan adikku.
Terima kasih untuk laluku, sekarangku, dan nantiku.
Terima kasih untuk aku.
Terima kasih untuk keluargaku.
Dan terima kasih untuk hidupku.

Catatan : Ma, pak.. terima kasih untuk nama ini :)
Aku suka.

Rabu, 18 Februari 2015

Untukmu, Tungguku Tersedia

Untung saja pengunjung sedang sepi sehingga aku bisa mengajak Binar ke tempat duduk favoritku. Di pojok ruangan, yang sinarnya lemah berpendar.

“Gimana? Sudah tenang sekarang?”

“Terima kasih ya, Bara. Aku ngga tahu kalo ngga ada kamu, aku mau ngubungin siapa.”

“Kamu ngga perlu ngubungin siapa-siapa, Nar. Kan ada aku.”

“Ah, Kamu bisa aja.”

Sekali lagi aku jatuh cinta. 

Berkali-kali, bahkan sampai tak bisa kuhitung lagi. Kudengar ada nasihat berkata, jika kamu hendak membuat seseorang jatuh cinta, maka buatlah ia tertawa. Tetapi ketika wanita ini tertawa, akulah yang satu-satunya telah jatuh cinta. Sejak sekian lama.

“Bar, sudah cukup rasanya Deva mempermainkan hatiku. Aku tak ingin dia kembali.”

“Kupikir ada baiknya kamu menenangkan diri, Nar. Aku tahu aku ngga akan pernah setuju pada tindakan Deva. Tetapi aku juga ...”

Hening.

“Aku juga? Apa?”

“Ah, bukan apa-apa Nar. Kamu mau minum apa?”

“Aku cuma mau tahu apa yang tadi mau kamu bilang ke aku.”
Aku menghela napas.

“Aku sayang kamu, Binar. Sejak lama. Sejak kita sekelas di SMA.”

Kulihat Binar terperanjak.

“Bukan. Bukan maksudku bahagia melihat kamu meninggalkan Deva. Aku hanya bersyukur kamu tak mesti lagi terluka.. Nar, jawab aku...”

“Bara, kamu mau jawaban yang seperti apa?”

“Aku mau kamu. Bukan mau jawabanmu, Nar.”

“Aku perlu waktu.”

“Dan aku siap menunggu. Untuk kamu, menunggu itu caraku mencintaimu.”

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com#TiketBaliGratis.

Kamu bukan Kamuku Lagi




Sontak semua mata pengunjung yang sedang makan siang di sini melihat ke arah kami.

“Astaga, kasihan sekali wanita itu.”

“Apa yang lelaki itu lihat dari wanita itu. Jelas saja kekasihnya lebih cantik parasnya.”

“Namanya juga lelaki buaya. Pasti hanya senang mencari lubang buaya.”

“Kasihan sekali wanita cantik itu, menangis hanya untuk lelaki seperti itu.”

“Jika disia-siakan lelaki seperti itu, sebaiknya denganku saja.”

“Pasti terlibat cinta di kantor” Ucap seorang yang duduknya paling dekat dengan meja kami. 

“Pasti hanya untuk teman kencan semalam.”

Aku berdiri menatap Deva yang saat ini kuyup di hadapanku bersama wanita entah siapa yang sedari tadi ditatapnya mesra.

“Sudah Mbak, kalau itu aku, sudah kutampar dari tadi.”

Aku menatap Deva yang tak bersuara.
Aku menatap wanita itu yang tak berani angkat kepala.

“Deva, jangan pernah pulang padaku. Selamanya!”


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.


Jumat, 13 Februari 2015

Untuk Kamu-ku..

Selamat pagi, 14 Februari..
...
Selamat pagi, Kamu..

Aku ingin bercerita, pagi ini pagiku ramai sekali.. Ya, ramai.. sebab rasanya bunga-bunga yang selama ini bermekaran di hati menuntut bisa keluar dari kepala. Mengunjungimu lewat kata-kata mesra yang nyata. Menghadiahimu hatiku. Memintamu menjadi semestaku. Tapi aku belum seberani itu, pikirku.

Pagi ini, aku ingin memberitahumu sesuatu.. maaf jika terasa agak tergesa, tetapi kupikir, aku tak bisa tak rinci menjelaskannya. Untukmu, aku mau menulis hatiku.

Ini pengakuanku..

Aku kira aku sudah jatuh cinta. Padamu. Pemilik senyum manis dan tatap mata malu-malu yang membuat rongga perutku disesaki kupu-kupu. Jika kamu pikir aku berlebihan, mungkin itulah kelebihanku menggambarkanmu. Tetapi itu nyata, senyata-nyatanya rasa yang muncul tiba-tiba sejak pertama menatap wajahmu walau tak lama. Aku pikir sampai batas aku mampu berpikir bahwa mungkin jatuh cinta padamu itu takdir.

Aku suka kamu. Suka senyummu. Suka tatapmu. Suka ekspresi wajahmu. Suka cara berbicaramu. Suka gaya rambutmu. Suka dudukmu. Suka berdirimu. Suka diammu. Suka malu-malumu. Suka tawamu. Suka bingungmu. Suka suaramu.. Ahh, aku pikir aku suka semuamu. Apapun itu yang ada di dirimu, tanpa terkecuali.

Sedikit kusadar aku suka, lantas menggebu aku jatuh cinta. Malam itu, ya.. aku tahu aku jatuh cinta, padamu, pemilik senyum manis yang memaniskan hatiku.

Aku memang jatuh cinta dan pada hatimu aku mengiba, tetapi jujur ini tidak bisa lama-lama.. aku memang tidak bisa langsung memintamu untuk menjadi duniaku, tetapi aku sedang merayu Tuhanku, barangkali Ia berkenan menghadiahiku hatimu, hidupmu, dan masa depan kita, padaku.

Kubilang aku tak bisa jatuh cinta berlama-lama.

Memang, ya..
Aku takut Tuhanku cemburu. Andai memang namamu yang tertulis di Lauful Mahfuz sebagai imamku, izinkan aku memantaskan diri terlebih dulu. Agar kelak saat hati kita bertemu, maka aku adalah apa yang kamu mau dan perlu. Tak perlulah berharap setinggi itu menjadi bidadarimu, cukup menjadi makmummu yang berdiri dan meng-aamiin-kan semua doamu, berdiri di belakangmu, mendengarkan keluh-kesahmu, memeluk di tiap gelisahmu, dan menuju JannahNya denganmu..

Sungguh, aku mau yang seperti itu. Bukan keinginan yang egois biasa memilikimu sementara waktu.. tetapi inginku lebih egois dari itu. Memintamu menjadi rekan hidupku menapaki setapak demi setapak waktu menuju akhir hidup kita berjumpa dengan-Nya.

Aku malu menulis ini, sejujurnya.
Tetapi tak apa, sebab pagi ini aku selangkah lebih maju untuk melukiskan hatiku tentangmu. Aku tahu aku wanita.. tetapi tak salah kan jika aku menuliskan surat ini untukmu, lelaki yang dengan tatapnya saja membuat aku bahagia?

ahh, sudahlah.. tak elok terlalu banyak kata. Jika Tuhan belum berkenan membuatmu ada dipelukan, setidaknya Ia tak keberatan membiarkan aku memelukmu lewat doa. :)

Sekian, kamu-ku..

Semoga harimu menyenangkan dan segala sesuatu yang baik selalu mengelilingimu. Aamiin.

-Antengrlalanissa-


Selasa, 10 Februari 2015

Iya-in Aja

Kamu akan ada ketika Tuhan berkata kamu harus ada.
Kamu tak akan ada ketika Tuhan berkata kamu tak harus ada.
Aku menginginkanmu ada, tetapi Tuhan bilang kamu tak perlu ada, maka kamu tak akan ada.
Sedang kamu akan ada dengan sendirinya ketika Tuhan tahu aku butuh kamu ada.
Maka yang perlu aku lakukan adalah mempersiapkan temu denganmu ketika Tuhan menganggap kita telah saling perlu.

-Antengrlalanissa-

Minggu, 08 Februari 2015

Rindu Tlah Mati

Selamat malam, kamu..
Yang pada malam-malam lalu kupeluk dengan rindu, tetapi hari ini kubilang "tidak lagi.."

Malam ini hujan.. aku kesepian..
Dan sempat rindu itu mengharapkan teman, tetapi kutahan..
Bukankah sakit jika rindu itu tak terbalaskan?
Bukankah letih jika rindu itu tak tersampaikan?
Dan bukankah lelah jika rindu itu... sendirian?
...
...
Rinduku ini bertuan..
Tetapi tak berteman..
Semacam tak ada pelukan yang jadi tempatnya pulang.
...
Rindu ini terabaikan.

Aku diam sejenak..
Tiba-tiba Hati bersuara.. "Aku rindu, dia. Bolehkah?"..
Aku diam.
Pikiran menjawab.. "Tidakkah lelah? Tidakkah engkau ingin menyudahi? Tidakkah aku yang tahu sakitmu ketika segala rindu beserta anganmu menguap begitu saja?"
Hati berkaca-kaca.. lantas dengan suara bergetar ia bertanya.. "Aku harus apa?"
Pikiran diam dan tersenyum. Sejenak menarik napas kemudian berkata "Tidakkah kamu bosan?" :)
...
Hati tertunduk.. lantas lirih ia berujar.. "Lelah.... sekali.."
...
Pikiran diam.. menatap Hati.. bangkit. Memeluk.. Lantas berbisik.. "Mari pergi. Rumahmu bukan di sini.. Jika dia, maka dia akan ada, nantinya. Jika bukan dia, setidaknya kau pernah bahagia merinduinya.."
...
Aku diam.
Hati diam.
Pikiran diam.
...

Dan rindu pun menguap diam-diam..
Aku...
Terselamatkan.

-Antengrlalanissa-

Rabu, 04 Februari 2015

Untuk Lelaki yang Baru Kutahu

Selamat sore, Kamu.. 
Lelaki yang baru kutahu awal tahun baru lalu. :))
Sedang apa? Yang pasti tidak sedang mengingatku kan? :)) Siapalah aku yang mendadak berharap sekali bermain di pikiranmu. Haha. aku tahu, terkadang aku selucu itu.

Cepat sekali ya waktu berlalu. Tak terasa sudah berganti jadi bulan kedua, tetapi ada satu hal yang membuatku bersyukur di tahun baru, sebab aku kenal kamu..
Sejujurnya perkenalan ini memang masih sangat muda. Belum juga kita saling menatap wajah satu dan yang lainnya. Hanya saja, sempatlah kita bertukar sapa sambil sesekali bercanda dan bertukar cerita. Haha.

Entah kenapa rasanya senang sekali aku menulis surat ini untuk kamu, sebab ini pertamaku dan ini untuk kamu. Haha. Padahal siapalah kamu. Aku hanya tahu wajahmu lewat sebuah gambar di media sosialmu. Aku hanya tahu sedikit tentangmu dari beberapa rekanku yang mengenalmu. Dan aku merasa sudah tahu kamu sejak sapa kita pertama kali. Selain aku lucu, memang terkadang aku juga sok tahu.

Sudahlah.. Aku tak tahu harus menulis apa lagi di surat ini. Sebab tak bagusnya aku merangkai kata buatmu, hanya saja sudah kupastikan yang kuceritakan di sini adalah kamu. Ya, Kamu.. yang kamu sendiri saja tak tahu kalau ini buatmu...
Sebab Kamu itu aku dan Tuhanku saja yang tahu.. supaya rahasia, dan tak ada yang mau tahu tentangmu kecuali aku.. :)))

Terima kasih sudah membaca suratku.

Dari aku yang sejak pertama disapa kamu langsung jadi pengagummu.

HAHA...
(lemah sekali hatiku atau kuat sekali pesonamu?? entahlah -___- ..)

Sudah-sudah. terima kasih sudah membaca suratku ya, kamu.. :)))

-Antengrlalanissa-

Sabtu, 31 Januari 2015

Aku (malu-malu) yang Mau Kamu

Sebab hujan ini begitu syahdu. Bagai nada-nada sendu  yang mengeja namamu.
Nama yang semudah itu aku lantunkan dalam doa, tapi sulit kuucap sebagai kata di dunia nyata.

Sebab hujan ini begitu syahdu. Aku rindu kamu, tetapi aku malu.
Malu yang malu-malu.
Diam yang malu-malu.
Dan aku memintamu pada Tuhan dengan malu-malu.

Aku suka kamu.
Suka sekali.
Karna aku adalah pemalu yang malu-malu mau kamu..

-Antengrlalanissa-

Aku (tak) seberani itu

"Hei :)"

Satu kata itu. Ya.. satu kata itu.
Satu kata yang kutahan sekuat hati agar tak lari menyapamu.

Bercakap denganmu melalui chat saja aku tak berani.
Apa yang bisa kuharapkan saat bertemu nanti.
Benar ini malu yang benar-benar.

Rasa ini diam-diam telah ada.
Rasa ini diam-diam berbunga.
Dan rasa ini diam-diam telah berakar berbuah di sini.
Di hati.

Semacam ada kekuatan entah dari mana mengekang rasa ini.
Kutakut dia lari. Atau lebih tepatnya, aku yang lari menghampirimu, menjeritimu dengan lantangnya mengucapkan "Aku Cinta Kamu Dari Dulu"
Tetapi sudahlah..
Segila ini aku menggilaimu, bukan berarti aku mengharuskanmu tahu.
Sebab mencintaimu dalam ketidaktahuanmu itu bahagiaku.

-AntengRLalanissa-

Jumat, 30 Januari 2015

Pada Waktu

Pada waktu, aku berterima kasih.
Sebab berkatnya maka aku kenal kamu.

Pada waktu, aku berterima kasih.
Sebab berkatnya maka aku dan kamu saling sapa.

Pada waktu, aku berterima kasih.
Sebab berkatnya maka aku dan kamu bisa tertawa bersama.

Pada waktu, aku berterima kasih.
Sebab berkatnya maka aku dan kamu saling bertukar cerita.

Dan pada waktu, aku berterima kasih.
Sebab berkatnya, aku tahu aku jatuh cinta.

Jatuh pada tatap dan senyummu.
Jatuh pada gerak dan suaramu.
Dan tenggelam dalam pemikiranmu.

Sungguh.
Tak elok banyak kutulis cinta.
Sebab kamu, lebih dari cinta.

-AntengRLalanissa-

Selasa, 27 Januari 2015

Hujan Ini Berkat, Kutahu

Hujan ini berkat, kutahu.
Sebab karenanya aku jadi ingat kamu.

Mungkin kamu tahu, aku rindu.
Tapi tak pernah kudengar sebaliknya rindumu datang mengetuk pintuku.

Aku mencintaimu hanya bisa lewat kata-kata.
Juga melalui doa yang kujaga supaya hanya rahasia dengan-Nya.

Aku mencintaimu seperti apa aku pun tak paham bagaimana.
Aku mencintaimu bagaimana aku pun tak paham mengapa.
Aku mencintaimu mengapa aku pun tak paham kapan bermula.
Aku mencintaimu kapan bermulanya pun aku tak paham ini cinta pada siapa.

Yang kutahu, kamu ada.
Sebab aku ada karena rusukmu ada.

Hujan ini berkat, kutahu.
Meski masa depan kita aku tak tahu,
Meski kamu siapa aku tak tahu,
Meski kita kapan bertemu aku tak tahu,
Yang kutahu, wujud rinduku adalah kamu.

Hujan ini berkat, kutahu.
Sebab Tuhan tahu aku berpuisi untukmu.

Hujan ini berkat, kutahu.
Semoga Tuhan menilai kita telah layak bertemu.
Sebab hujan ini berkat, aku memberitahumu.

-AntengRLalanissa-

Rabu, 21 Januari 2015

Semua rasaku terkunci di kata-kata. Kamu bertanya, apa aku tak benar-benar cinta? Bukan! Bukan aku tak bisa menunjukkan padamu cintaku seperti apa. Hanya saja, beraniku menjamahmu hanya ada dalam doa.
Sebab di waktu-waktu terbaikku, kamu ada.
-AntengRLalanissa-

Senin, 19 Januari 2015

Bukan Gombal Biasa

Untuk detik-demi detik yg hadir di tengah sunyi kita, aku tau kita saling memahami lewat kata-kata yang bersarang di kepala. Meredam hati meningkatkan toleransi. Untuk lelaki seperti kamu, aku rela mencintai.
Untuk huruf-demi huruf yang menjadi saksi di tiap puisi kita, sumpah, kerinduan ini nyata. Senyata aku yang tidak pernah tidak merindukan kamu.
Untuk tetes-demi tetes rindu yang membasahi pelupuk mata, percayalah, jika rindu itu benda nyata, maka sudah tentu kamu adalah wujudnya.
Untuk gelak-demi gelak tawa diam-diam dalam ingatan tentang kamu, sudahlah.. aku tak perlu seromantis ini menceritakan setiap detail  bahagiaku karna kamu.
Biar saja, kalau kamu sejatiku, maka suatu hari kamu akan kembali.
Bagaimana jika bukan? Ahh, hati ini terlalu kerdil untuk tak menerima keputusan Tuhan. Sebab di tawamu, tawaku bermuara

Antengrlalanissa