Assalamualaikum ma, pak..
Aku sedikit menulis untukmu.
Tulisan ini ntah bisa kusebut puisi atau doa atau apalah itu namanya. Yang jelas kutulis ini dengan rindu mengiringinya.
Kubilang padaku, ma..
Jangan kalah untuk membuatmu tak marah.
Kubilang padaku, pak..
Tak boleh manja untuk membuatmu bangga.
Kubilang padaku, dek..
Janganlah aku menjadi panutan tidak baikmu.
Sebab andai seluruh dunia ini menjauhiku, maka aku tau akan selalu ada hati yang menerimaku.
Sebab andai tak ada lagi yang mau menemaniku, maka akan selalu ada dadamu sebagai tempat kembaliku, ma.
Sebab andai tak ada lagi yang mau bersamaku, maka akan selalu ada pundakmu yang jadi sandaranku, pak.
Sebab andai tak ada lagi yang mau menjadi hal baikku, maka akan ada tawamu disana yang menguatkan aku, dek.
Aku tak perlu meragu bukan?
Bukankah sejauh apapun adok pergi nanti..
Tetap pelukan mama dan bapak sebagai tempat kembali.
Senyata-nyatanya bahagiaku karena mewarisi darahmu.
Maaf, ma pak..
Untuk menuamu yang belum ada senyum karenaku.
Maaf, untuk gurat di kening dan telapak tanganmu sedang aku belum mampu mengembangkan bahagiamu.
Aku sayang kalian melebihi semesta tempat kita hidup dan mati.
Dan Tuhan,
Sujud seumur hidup pun rasanya bersyukurku tak cukup kepada-Mu.
Atas berkat yang membuatku ada dicerita ini..
Terima kasih untuk memilihkan kedua orangtuaku dan adikku.
Terima kasih untuk laluku, sekarangku, dan nantiku.
Terima kasih untuk aku.
Terima kasih untuk keluargaku.
Dan terima kasih untuk hidupku.
Catatan : Ma, pak.. terima kasih untuk nama ini :)
Aku suka.




0 komentar:
Posting Komentar