Minggu, 24 Mei 2015
#3
Sunyi melihat doa dan rindu menyimpul jadi satu. Lantas mereka berlari mencapai dadamu. Tetapi sayang, di kepalamu tak ada aku.
-Antengrlalanissa-
Selasa, 05 Mei 2015
PERGIMU
Langit terlihat gelap sekali. Akan hujan, pikirku.
Kulirik lagi jam tanganku untuk yang entah sudah keberapa kalinya. Satu
setengah jam aku menunggu kamu tiba masih di taman yang sama dan di kursi
tempat kita biasa bercengkrama. Pada pesanmu tiga puluh menit yang lalu, sudah
dekat, katamu.
...
Langit terlihat semakin gelap. Aku cemas. Kamu di
mana? Tak juga kamu balas pesanku. Ada apa ini? Aku merasa jantungku berdegup
cepat sekali. Aku masih menunggu.
...
Gerimis mulai merintik. Aku masih diam, mengamati
sekitar barangkali kulihat kamu berlari kecil di antara kerumunan orang-orang
yang bergegas mencari tempat untuk berteduh. Aku tak lihat kamu. Kamu kemana?
...
Gerimis menderas. Aku bangkit lantas bergegas
menghampiri pohon terdekat yang sekiranya bisa melindungiku dari hujan ini.
Belum juga kulihat kamu. Kulihat ponselku. Tak juga ada kabar darimu. Aku mulai
berpikir tak tentu.
...
Setengah jam berlalu. Hujan berhenti menyisakan
warna daun segar dan kecipak basah pada rumput dan bangku taman. Terlihat
semakin indah, tetapi aku masih cemas. Apakah kamu baik-baik saja?
...
Sudah pukul empat. Artinya sudah dua jam aku
menunggumu dari waktu yang kamu tentukan sendiri. Ya, kamu selalu menentukan
waktu untuk kita bertemu dan aku, sesibuk apa pun itu, tak akan pernah
membantahmu. Itulah cinta, ada untuk selalu siap sedia, pikirku.
...
Ahh, itu kamu. Tergesa sekali menghampiri aku. Aku
berdiri tersenyum menyambutmu. Menunggumu tiba di depan mataku lantas bisa
melihat senyummu kemudian menggenggam tanganmu. Kemudian kita bercerita tentang
bagaimana kamu tanpa aku beberapa hari ini. Aku tak sabar. Senyumku semakin
lebar. Aku tak sabar. Aku tak sabar.
...
Tunggu! Kulihat dari jauh, mukamu kusut sekali. Kamu
menangis? Ada apa? Kamu kenapa? Astaga.... Aku maju menyambutmu. Kamu berlari
menghampiriku.
...
Kamu memelukku erat sekali. Menangis sejadi-jadinya.
Aku memelukmu tak kalah erat. Andai pelukanku menyerap semua sedihmu, aku
bersedia.
...
Kutenangkan kamu. Kuhapus air matamu. Kuusap
punggungmu. Kugenggam tanganmu. Kulakukan apapun itu yang bisa menenangkanmu.
Betapa ingin sekali kuteguk habis sedihmu. Tolonglah, cinta pertamaku. Jangan
menangis. Jangan. Aku bisa mati melihat air matamu. Berhentilah menangis.
Ceritakan padaku perkara sedihmu.
...
Kamu menghapus air matamu, lantas menoleh dan
tersenyum menghadapku. Cantik sekali. Kamu terlalu cantik dan selalu cantik.
Tuhan terlalu sempurna mengukir wajahmu barangkali. Atau Tuhan sengaja agar ada keindahan yang selalu bisa kupandangi. Kamu.
...
“Selamat Tinggal, Guntur.” Katamu pertama kali.
...
Aku mengerutkan kening, menyatukan alisku. Ada apa
ini? Kamu mau kemana? Ada apa? Kenapa kamu mengucapkan selamat tinggal? Apakah
ada salahku yang menyakitimu. Beritahu aku. Jangan membuatku takut seperti ini.
protesku.
...
“Aku akan kembali ke daerahku. Ibu meminta aku
pulang. Ayah dan ibu bilang mereka akan menikahkan aku dengan lelaki
pilihannya. Kamu tahu, aku tak akan pernah membantah mereka kan?” Ucapmu sambil
menyeka ujung matamu yang kembali basah.
“Aku cinta kota ini sebab aku telah lama menjadi
bagiannya. Kota ini penuh cerita. Berat rasanya membawa raga jauh dari sini. Aku suka sekali taman ini dan bangku
ini. Terlebih, aku selalu suka sebab selalu ada kamu di sini. Tapi aku bisa
apa?” Suaramu makin tak terdengar.
Isakmu semakin mendesak. Percayalah, perih sekali melihatmu menangis seperti ini.
...
Basah sekali hatiku. Hancur rasanya mendengarmu
berkata seperti itu. Apa katamu tadi? Menikah? Bercandakah ibu dan ayahmu?
Tidakkah mereka berpikir kamu bisa sendiri menemukan cinta sejatimu? Tidakkah
mereka tahu kamu mampu menuliskan sendiri masa depanmu? Kamu tak perlu
dijodohkan! Seperti apa lelakimu? Bagaimana sikapnya padamu? Sudahkah kamu pernah bertemu? Bagaimana dia akan
memperlakukanmu? Apakah nantinya dia akan menyakitimu? Tidak bisakah kamu
membantah mereka? Tidak bisakah kamu bilang tidak barang sekali saja? Tidak
bisakah kamu menceritakan ini lebih dulu kepadaku? Aku tidak siap, Sa!
...
Aku sendu. Tak lagi bisa berpikir mendengar
beritamu. Aku ... entahlah.... Kacau sekali aku.
...
“Aku sudah memesan tiket kepulanganku malam ini.
Mungkin aku tak akan pernah kembali ke sini. Maaf, aku baru memberitahumu. Entah,
aku hanya tak sanggup saja memberitahumu dari waktu-waktu yang lalu.”
“Aku harus kembali Guntur.” Katamu sembari memaksa
senyum dan menggenggam tanganku. “Berjanjilah padaku untuk selalu baik-baik
saja. Aku akan terus menghubungimu setibanya aku tiba di Lampung nanti. Jangan
sedih. Sejauh apa pun jarakku, kamu adalah sahabat terbaikku. Doaku
menyertaimu.” Kamu tersenyum, manis sekali. Dan hatiku perih sekali.
...
“aa huuu zeeee eghhh...” Aku memprotesmu.
Kugeleng-gelengkan kepalaku. Tanganku menjelaskan kata-kata yang tak bisa
kusuarakan. Aku meracau. Aku kacau.
...
Kamu menangis semakin deras. Aku menahan tangis
semakin keras..
...
Aku tak sanggup, Sa. Aku tak sanggup.
Bagaimana aku bisa melepas cinta pertamaku untuk
menikah dengan lelaki yang tidak kutahu? Aku takut dia tak bisa menjagamu. Aku
Sa. Aku yang sedari kecil menjadi sahabatmu. Aku yang sedari dulu menjagamu.
Aku yang mencintaimu. Aku yang... Arrrggggghhh... Tidakkah kamu tahu????
...
“Aku sayang kau, Guntur. Aku sayang kau. Maaf tak
bisa lagi bersama. Berjanjilah selalu baik hidupmu. Aku sayang kau.”
...
Aku tak bersuara. Hanya menatap wajahmu,
menghapalnya sebisaku. Tiap lekuknya. Sorot matamu. Senyummu. Cara bicaramu.
Suaramu.
Dalam sendu, kubalas senyum paksamu. Kugenggam tanganmu. Kuanggukkan kepalaku,
lantas memelukmu.
Kau cintaku, Lanissa. Selamanya akan menjadi
cintaku. Berbahagialah selalu, meski bukan denganku. Berjanjilah.
...
Kamu mengangguk seperti mendengar hatiku. Lantas
kita tersenyum malu. Kemudian tertawa. Hahaha. Aku akan rindu suaramu.
...
Kamu keluarkan sebuah buku. Album foto ternyata.
Semuanya foto kita. Dari kita yang masih SD kelas 5 saat aku main ke rumahmu
dan ayahmu baru saja membeli kamera baru sampai foto kita saat terakhir kali
bertemu 3 hari yang lalu. Manis sekali foto itu. Kamu bersadar di dadaku dan
kita tersenyum senang sekali ke arah kamera. Ternyata untuk hari ini tawamu
kemarin itu ada. Aku tak sempat curiga.
...
Langit mengelam, hari mulai malam.
Kukecup keningmu dan kamu balas mengecup pipiku.
Kita berpelukan. Kemudian berfoto untuk terakhir kalinya. Kamu memelukku
kembali, erat sekali. Aku tak mau kalah, kupeluk kamu sekaligus hatimu.
Barangkali untuk terakhir kali. Hati-hati, Sa.. ucapku dalam hati.
...
Kupaksa mengantarmu ke terminal tapi kamu tak mau.
Aku bisa apa selain menurutimu? Kita berpisah di taman itu.
...
Aku menangis sejadi-jadinya dalam perjalanan
pulangku. Kacau sekali aku ditinggalkanmu.
...
“Bus sudah berjalan. Entah kapan kita bisa berjumpa
lagi. Jaga dirimu. Terima kasih Tuhan telah meletakkan aku dalam ceritamu. Kau sahabat terbaikku, Tur.” Isi dalam pesanmu.
...
“Aku mencintaimu, Sa. Kacau sekali aku kehilanganmu.
Habislah aku.” Ketik jari-jariku.
....
“Hati-hati, sahabat terbaikku. Kirimi aku kabarmu,
sebisamu. Aku dan kota ini selalu rindu kamu.” Kirimku untukmu.
Tamat.
Antengrlalanissa
Bandarlampung ,4 Mei 2015. 20:18
Langganan:
Postingan (Atom)



