Senin, 24 Agustus 2015

Membisikimu, Syarifah

Syarifah.. Iya kamu..
Mari sini, aku ingin membisikimu sesuatu.

*Dengan senyum malu-malu, kamu mendekatkan telingamu*

Seperti ini aku membisikimu...

Akhir-akhir ini aku sering disapa oleh rekan-rekanku.
Mereka bukan hanya menyapa dan menegur bahkan curhat.

Terkadang aku lewat toko. Rekan-rekanku menyapa.
Seperangkat alat sholat dan emas sekian gram.

Aku lewat hajatan. Kawan-kawanku  juga menegur.
Pelaminan beserta perangkatnya.

Aku lewat KUA pun sering dipanggil untuk mampir sejenak.
Sepasang buku mirip paspor berwarna merah dan hijau.

Bahkan aku lewat masjid. Masjid pun mencurahkan isi hatinya.
Ia rindu lantunan suci nan sakral ijab qobul. Rindu kehadiran wali, mempelai, dan penghulu.

Bagaimana? Kamu dengar semua dengan jelas bisikanku?


-Danubrata Dadang-
24 Agustus 2015

Minggu, 23 Agustus 2015

Terpisah Sementara

Syarifah...
Genggamlah jantungku.
Hitunglah detaknya.
Sebanyak itulah rinduku padamu.

Tidakkah engkau tau...
Walaupun jarak kita laksana timur dan barat...
Tapi bait frasa, bait harap ini selalu teruntai selaksa air
yg turun dari bukit ke lembah...

Hari berganti hari.. Bulan berganti bulan..
Masa lalu pun menatap dengan nanar...
Masa kini yang penuh dengan gelombang hampa...
Layaknya tanah berdebu yang lama tak terkena hujan..

Ini resahku, mungkin juga resahmu.
Tapi tenang saja Syarifah... Aku yakin...
Karena kita hanya terpisah sementara, selebihnya kita
akan bersama...

-Danubrata Dadang-
23 Agustus 2015