Sabtu, 31 Januari 2015

Aku (malu-malu) yang Mau Kamu

Sebab hujan ini begitu syahdu. Bagai nada-nada sendu  yang mengeja namamu.
Nama yang semudah itu aku lantunkan dalam doa, tapi sulit kuucap sebagai kata di dunia nyata.

Sebab hujan ini begitu syahdu. Aku rindu kamu, tetapi aku malu.
Malu yang malu-malu.
Diam yang malu-malu.
Dan aku memintamu pada Tuhan dengan malu-malu.

Aku suka kamu.
Suka sekali.
Karna aku adalah pemalu yang malu-malu mau kamu..

-Antengrlalanissa-

Aku (tak) seberani itu

"Hei :)"

Satu kata itu. Ya.. satu kata itu.
Satu kata yang kutahan sekuat hati agar tak lari menyapamu.

Bercakap denganmu melalui chat saja aku tak berani.
Apa yang bisa kuharapkan saat bertemu nanti.
Benar ini malu yang benar-benar.

Rasa ini diam-diam telah ada.
Rasa ini diam-diam berbunga.
Dan rasa ini diam-diam telah berakar berbuah di sini.
Di hati.

Semacam ada kekuatan entah dari mana mengekang rasa ini.
Kutakut dia lari. Atau lebih tepatnya, aku yang lari menghampirimu, menjeritimu dengan lantangnya mengucapkan "Aku Cinta Kamu Dari Dulu"
Tetapi sudahlah..
Segila ini aku menggilaimu, bukan berarti aku mengharuskanmu tahu.
Sebab mencintaimu dalam ketidaktahuanmu itu bahagiaku.

-AntengRLalanissa-

Jumat, 30 Januari 2015

Pada Waktu

Pada waktu, aku berterima kasih.
Sebab berkatnya maka aku kenal kamu.

Pada waktu, aku berterima kasih.
Sebab berkatnya maka aku dan kamu saling sapa.

Pada waktu, aku berterima kasih.
Sebab berkatnya maka aku dan kamu bisa tertawa bersama.

Pada waktu, aku berterima kasih.
Sebab berkatnya maka aku dan kamu saling bertukar cerita.

Dan pada waktu, aku berterima kasih.
Sebab berkatnya, aku tahu aku jatuh cinta.

Jatuh pada tatap dan senyummu.
Jatuh pada gerak dan suaramu.
Dan tenggelam dalam pemikiranmu.

Sungguh.
Tak elok banyak kutulis cinta.
Sebab kamu, lebih dari cinta.

-AntengRLalanissa-

Selasa, 27 Januari 2015

Hujan Ini Berkat, Kutahu

Hujan ini berkat, kutahu.
Sebab karenanya aku jadi ingat kamu.

Mungkin kamu tahu, aku rindu.
Tapi tak pernah kudengar sebaliknya rindumu datang mengetuk pintuku.

Aku mencintaimu hanya bisa lewat kata-kata.
Juga melalui doa yang kujaga supaya hanya rahasia dengan-Nya.

Aku mencintaimu seperti apa aku pun tak paham bagaimana.
Aku mencintaimu bagaimana aku pun tak paham mengapa.
Aku mencintaimu mengapa aku pun tak paham kapan bermula.
Aku mencintaimu kapan bermulanya pun aku tak paham ini cinta pada siapa.

Yang kutahu, kamu ada.
Sebab aku ada karena rusukmu ada.

Hujan ini berkat, kutahu.
Meski masa depan kita aku tak tahu,
Meski kamu siapa aku tak tahu,
Meski kita kapan bertemu aku tak tahu,
Yang kutahu, wujud rinduku adalah kamu.

Hujan ini berkat, kutahu.
Sebab Tuhan tahu aku berpuisi untukmu.

Hujan ini berkat, kutahu.
Semoga Tuhan menilai kita telah layak bertemu.
Sebab hujan ini berkat, aku memberitahumu.

-AntengRLalanissa-

Rabu, 21 Januari 2015

Semua rasaku terkunci di kata-kata. Kamu bertanya, apa aku tak benar-benar cinta? Bukan! Bukan aku tak bisa menunjukkan padamu cintaku seperti apa. Hanya saja, beraniku menjamahmu hanya ada dalam doa.
Sebab di waktu-waktu terbaikku, kamu ada.
-AntengRLalanissa-

Senin, 19 Januari 2015

Bukan Gombal Biasa

Untuk detik-demi detik yg hadir di tengah sunyi kita, aku tau kita saling memahami lewat kata-kata yang bersarang di kepala. Meredam hati meningkatkan toleransi. Untuk lelaki seperti kamu, aku rela mencintai.
Untuk huruf-demi huruf yang menjadi saksi di tiap puisi kita, sumpah, kerinduan ini nyata. Senyata aku yang tidak pernah tidak merindukan kamu.
Untuk tetes-demi tetes rindu yang membasahi pelupuk mata, percayalah, jika rindu itu benda nyata, maka sudah tentu kamu adalah wujudnya.
Untuk gelak-demi gelak tawa diam-diam dalam ingatan tentang kamu, sudahlah.. aku tak perlu seromantis ini menceritakan setiap detail  bahagiaku karna kamu.
Biar saja, kalau kamu sejatiku, maka suatu hari kamu akan kembali.
Bagaimana jika bukan? Ahh, hati ini terlalu kerdil untuk tak menerima keputusan Tuhan. Sebab di tawamu, tawaku bermuara

Antengrlalanissa