Sabtu, 29 November 2014

Langit dan Rindu

Langit pagi ini membias warna abu-abu seolah  ia menyiratkan tentang sesuatu.
Mungkin, sesuatu itu disebut rindu...

Rindu pada waktu yang sempat kulewati bersamamu
Rindu tentang renyah tawamu
Rindu melihat marahmu
Mungkin rindu menggenggam tanganmu
Atau mungkin, rindu.. ada kamu..

Yang jelas langit pagi ini, sendu...
Seperti rindu yang tak kunjung berbuah temu.

-AntengRLalanissa-

Kamis, 27 November 2014

Berhenti...

Aku lelah berandai-andai memaksakan kehendakku atas perasaanmu yang tak kunjung ku tau. Aku lelah merasa yakin, berbaik sangka padamu melawan semua tuduhan atas dirimu. Masih ada seklumit keyakinan di sini, hatiku, tentang janji yang mungkin akan kamu tepati suatu waktu nanti, entahlah.. untuk berharap pun aku sungguh tak berani..
Pernah sekali, aku benar-benar memasrahkan hatiku dalam perih yang tak akan pernah kau mengerti. Bagaimana caraku menerima semua yang ada padamu meski harus bersebrangan dengan kebiasaanku, aku tak tau malu untuk memperjuangkanmu, hingga pada malam itu akhirnya kamu yang memutuskan untuk berhenti. Aku tak lagi aku. Aku tak lagi sama seperti yang dulu. Untuk orang yang baru kukenal sepertimu, kamu berhasil membawa kabur lima-perenam hatiku. Nyaris tak bersisa. Nyaris logikaku tak lagi berguna. Nyaris saja aku mati dalam sakit hati. Tapi aku masih mempercayaimu sebagai lelaki. Lelaki tak akan ingkar janji bukan? Aku tau, kamu pasti lelaki.
Bukankah hati tak akan ingkar janji? Yang ada hanya setan di kepala yang membuat kita lupa. Bahwa kita pernah sama-sama berjanji.
Aku menyerah dan kalah dalam perih yang tak kunjung lelah menjarah. Bukankah dulu kamu pernah berjanji untuk tidak pergi? Tapi sekarang malah aku yang tak bisa memintamu kembali. Coba berikan saja hatiku lagi. Sama saat dulu aku belum tau indahnya berada dalam kisah hidupmu.
Aku pernah senang sekali digenggamanmu. Hingga akhirnya pelukanmu menjadi candu. Dan diciummu menjadi semacam narkoba jenis terbaru. Menyenangkan, menenangkan, dan mengawangkan. Aku pernah girang ketika dicemburui masalalumu karna setelah dia, akulah yang akhirnya mampu menatap matamu setiap waktu. Aku tak pernah tau persis bagaimana perasaanmu waktu itu, tapi yang aku tau, aku benar menempatkanmu menjadi semestaku walaupun hingga akhirnya kamu yang menghancurkan hingga serupa debu pun tak bisa. Ahh, kamu terlalu faseh bicara cinta dihadapan gembala yang baru saja kehilangan seluruh ternak cintanya pula. Aku dibawa mengunjungi surga, tapi akhirnya harus rela ketika kembali ke dunia, tanpamu ada.

... Aku cinta kamu

Kata-kata tentang separuh maupun seluruh cintaku rasanya tak berhenti mengerubungi buku di kepalaku. Ada banyak yang harus aku tuliskan di sana. Ada banyak pertanyaan yang harus terjawab di sana. Di tempat bernama kepala. Segala tumpah ruah di sana.
Di hati lebih lagi. Segala bagai banjir bandang di sana. Perasaan cinta, luka, kecewa, iba, bertahan, melepaskan, sakit, bahagia, tawa, lara saling taut bagai benang kusut.

Ahh,, aku lupa bahwa segala yang ada adalah yang tak ada. Tuhan, selamatkan aku dr jebakan yang mahadahsyat bernama cinta. Karna cinta yang tak ada jebakannya hanya cinta padaMu

-AntengRLalanissa-

Rabu, 26 November 2014

Sebab kamu, aku terlalu..

Karena aku terlanjur mencintaimu
Seperti awan yang tak mungkin menarik lagi hujannya

Ahh, biar kamu tau saja
Mencintaimu aku bisa
Seperi lautan yang terus-menerus mengulang buihnya

Merinduimu aku mampu
Seperti kepak sayap kupu-kupu yang membawanya hinggap di seribu bunga

Sebab aku terjerat dalam pekat senyummu yang semacam candu itu
Sebab aku tertangkap pada tatap matamu yang lugu
Sebab aku tanpa sebab menggilaimu

Seharusnya aku berhenti. Sebab hatimu kutahu sudah dimiliki
Tapi apa daya, logika rasanya mati saat tawamu menjadi duniaku

Dalam mau yang menggebu, ingin rasanya  memelukmu dengan terlalu
Bila perlu, sampai kau melesak masuk dalam hatiku.
Lalu tak ada lagi yang bisa menemukanmu selain aku

Tak taukah?
Kau adalah semacam racun yang membuat gila
Tak bisakah kau kembali saja ke surga lalu duduk manis menunggu aku disana?
Di dunia ini aku menggilaimu, tapi tak bisa menjangkaumu.
Mungkin di sana baru aku bisa memilikimu.
Itupun...
bila kamu mau.

-AntengRLalanissa-

Aku mau, kamu..

Pada rindu yang menggantung di atap-atap kamarku, aku membayangkan sedikit kecupan di keningku dari kamu.
Sebelum lelap dalam tidurku didalam pelukanmu. Dalam hayalku.
Pada doa yang kuharap terbawa naik malaikat menuju surga, aku berharap ingatmu tentang aku, ada.
Aku tahu kamu tak tahu.
Kamu tidak tahu apa yang aku tahu.
Sebab aku tak menyuruhmu mencari tahu.
Dan kamu juga tidak merasa perlu tahu.
Tidak juga aku memaksamu untuk tahu.
Bukan begitu?
Coba biarkan saja rinduku beruban menunggu waktu letih merinduimu yang entah kapan.
Sebab langit terlampau pelit untuk membagi rahasianya.
Aku ingin tahu, bagaimana perasaanmu. Tapi biar saja, aku meraba dalam ingin di kepalaku.
Diamkan saja aku, yang diam-diam mengingatmu. Selalu.
Sebab kamu, yang Tuhanku tahu, aku mau.

-AntengRLalanissa-

Semudah Ini, Aku, Cintai Kamu

Pada setiap sajak yang kupijak atas namamu, semuanya mengandung rindu
Ditiap sastra yang kubaca, kamu aku cinta
Seperti ibu yang mendendangkan lagu ninabobo menidurkan anaknya, setulus itu pula aku mencintaimu
Selepas batas kamu mampu membalas, tak sedikitpun aku berharap lebih
Di matamu aku tergelincir
Di sudut senyummu aku menenggelamkan diri
Di hatimu aku menjeratkan harapan
Dengan sendiri.. tanpa paksaan..

Aku sebatas ingin menatapmu berlama-lama
Sebatas mau merekam ekspresi tawamu dalam ingatanku
Tapi hanya sebatas bisa mengagumimu dalam rahasia

Sebab di setiap senjaku, aku lihat kamu. Pasti separah ini aku menggilaimu.
Pikirmu aku bercanda?
Tidak.
Benar aku berharap menjadi esokmu
Menjadi pelukan yang mendamaikanmu
Dan sebagai rumah.. yang selalu menjadi tempatmu pulang.
Semoga aku.

Sebisa mungkin, aku tak mencintaimu
Karna aku terlanjur menggilaimu

Jatuh cinta pada setiap polamu
Tertawa pada setiap garismu
Berduka pada tiap goresanmu
Dan mengagumi pada tiap tatapmu

Betapa sebenarnya kau harus tau
Semudah itu jatuh hati padamu
Tapi sesulit ini membawa kembali hatiku yang terlanjur jatuh karenamu

-AntengRLalanissa-

Jumat, 21 November 2014

Kamu Harus Tahu Aku Juga Sok Tahu

Hai, seseorang di masa lalu.
sebelumnya terimakasih karena pernah ada di dalam ceritaku
berkat kamu, maka ada aku yang sekarang ini

hai, seseorang di masa lalu
ini bukan tentang upayaku menyombongkan keadaanku selepas perginya kamu
bukan juga upayaku membuktikan apapun terhadap kamu
bukankah tak perlu menjelaskan apapun pada orang yang sudah sok tahu

hai, seseorang di masa lalu
terkadang tingkahmu terasa lucu
bagaimana mungkin kamu mengira aku harus terpuruk dilepas kamu
bagaimana mungkin kamu berpikir aku semenyesal itu?
bukankah kesalahan itu pembelajaran?

keberlebihanmu menafsirkan hidupku itu yang kuanggap lucu
mengira semenyesal itu aku ditinggal kamu
seberharap itu kamu akan hidupku
betapa aku tak pernah menyesali kamu dan sebaik ini mendoakan kamu bahagia
serta semoga kamu tidak semakin sok tahu

kira-kiramu yang tak berdasar itu sampai membuat kamu terlihat pandir di mataku
bukan, bukan aku merendahkanmu
tidak juga aku sedang mengolok-olok kamu

mungkin aku juga sok tahu, tetapi bukan untuk mengurusi hidupmu.

-antengrlalanissa-

 

Tidak Dicintaimu


Karena aku sudah terlanjur mencintaimu
Seperti rahim yang tak mungkin menelan lagi anaknya
Sekali-pun laba- laba telah membangun sarangnya dalam hatimu
Sesungguhnya aku tidak ingin keluar.
Atau biarlah di dalamnya aku di sekap
Dengan nafas yang terengah- engah
Teriring isak yang tersandung- sandung di tenggorokan
Inilah aku yang betapa ingin membangkitkanmu yang tergeletak
Mungkin ini garis terberat aku mencintaimu
Ada baiknya aku memohon ampun
Mengakui kelemahan
Menjunjung tinggi belas kasihan
Dan tak lupa berterima kasih
Aku tidak ingin hanya sekedar ada
Tapi siap dan lagi bisa
Bila lengah mata melihat
Atau lelah pundah memikul
Ketahuilah, langkahku tetaplah engkau
Aku ingin terlempar untuk membentur bola matamu
Lalu menggelinding di atas setiap esokmu
Bagiku, wajah yang di pukul kelak masih lebih ringan
Daripada tidak di peluk kamu di saat- saat seperti ini
Karena tidak di cintaimu adalah sesuatu yang baru
Yang membuatku merasa asing di antara segala hati yang membuka pintunya kepadaku
Di dalam tubuhku
Di dalam hidupku
Kaulah darahku
Alasan degup jantungku
Kini aku merasa bahwa hatimu telah menelanku hidup- hidup
Ataukah aku melantur?
Tidak… Aku hanya takut menjadi bangkai dalam hatimu
Itu saja


-ZarryHendrik-

Puisi Zarry Hendrik SADGENIC: Percakapan Ruang Tunggu

Pagi ini aku berada di ruang tunggu bandara dengan dirajam gelisah pada jarum jam yang tak mau bergerak lebih cepat dari yang aku harap. Sesegera mungkin aku ingin meletakkan tubuhku di kursi dan terbang bersanding dengan awan untuk tiba di kotanya. Meskipun berkali kali dia menerbangkan aku dengan kata-kata yang penuh candu. Tapi saat saat ini, sungguh membuatku ingin melompati waktu. Awan seperti membaca gelisahku dan kemudian menggodaku, jutaan tetes air terpelanting ke bumi dengan keras. Ah, semoga hujan ini tak memperpanjang durasi dudukku di ruang tunggu itu. HP ku bergetar. Terbaca nama yang selalu memenuhi kepalaku di layar.
Zarry : “Pancar sinar matahari disini begitu terang, seperti senyummu. Pagi disini, siap untuk menyambutmu :)”
Rahne : “Bagaimana bisa matahari menemanimu, dan hujan bersanding denganku, sementara langit kita masih sama bernama rindu” Aku mengeluh, aku takut hujan ini menunda keberangkatanku.
Zarry : “Matahari hanya menemaniku, dengan sinarnya ia mengaku bahwa kamu masih lebih bercahaya darinya”
Aku selalu heran, bagaimana kata-kata yang dia susun, bisa mengantarkan senyum tak berkesudahan. Aku membalas lagi.
Rahne : “dan disini, hujan menemaniku, dengan rintiknya ia berseru agar aku selalu bisa berteduh di matamu”
Zarry : “Senyumku tidak sedemikian lebar untukmu berteduh. Namun bila hujan memukul atapmu, ada pelukku untuk kau tidak kedinginan”
Seketika aku merasa ruangan ini menghangat, aku curiga ada seseorang yang mematikan AC. Tapi kurasa, abjad yang kau susun di layar, berhasil menembus hati yang menggigil karena rindu. Tapi tetap, selalu kunanti peluk itu.
Rahne : “Zarry, pelukmu tak dapat terganti oleh kata-kata, nanti, jika jarak kembali mengetuk-ngetuk jendela. Dekap aku selagi bisa”
Ya, entah kenapa jarak selalu suka berada di tengah tengah kita.
Zarry : “Aku tidak memerintahkan awan untuk merintikkan kerinduanku, tetapi tidak kah kau dengar rinduku memukul-mukul atap rumahmu?”
Ya hujan semakin deras, sederas rasa yang menyebar ke tubuhku.
Rahne : “Rindumu telah menembus nadiku, kini ia berlayar tepat di jantungku. Sungguh saat ini aku ingin memerintahkan kakimu, membawamu tepat dihadapanku”
Zarry : “Kuharap hujan dapat membuatmu menulis namaku di setiap kaca basah yang kamu jumpa, sebab dari timur langit aku memandangmu”
Rahne : “Percayalah, tak hanya di kaca lembab yang aku jumpa, kutulis namamu di papan langit sepanjang waktu yang aku punya”
Zarry : “Kau tahu? Ada banyak kata untuk kita melukis hujan, tapi lihatlah, langit saat ini sedang asyik menulis kita. Semoga Tuhan mau menjentikkan jari-Nya sekali saja, supaya tiba tiba di sana ada aku yang memelukmu dari belakang”
Aku tahu, kau ingin sekali berada disini menemaniku.
Rahne : “Tuhan tak hanya akan menjentik, dia akan bertepuk tangan saat hati kita bergandengan”
Ya.. mungkin semua akan bertepuk tangan saat kita bergandengan. Aku melumat senyumku sendiri karena terbesit rasa malu yang menyapu merah di wajahku
Zarry : “Disini aku berharap agar malaikat mau menendang aku sampai aku melambung jauh di langit dan kemudian jatuh di pangkuanmu”
Rahne : ” Ha ha ha jika benar begitu, disini, aku akan mengakarkan tubuhku pada kaki langit, menunggu waktu hingga kau tiba di pangkuanku”
Zarry : “Pagi ini aku seperti sehelai daun yang disentuh embun. Namun lebih dari itu, akulah aku yang cinta bumi dan juga kamu, Aku telah banyak melihat orang-orang yang pandai melukis pagi dengan baik, tetapi sekarang, pagi itu sendiri yang melukis kamu”
Rahne : “Sebentar lagi aku akan mendekat pada awan, akan kubisikkan padanya, “Tolong gerimisi Zarry saat ini agar dia selalu mengingatku, yang dirintikinya dengan candu, dan sejukkan dia selalu”.
Zarry : “Kaulah kata yang menyejukkan, seperti angin yang muncul dari kepak sayap malaikat”
Kulihat keluar jendela, hujan nampaknya sudah mereda, bersamaan dengan itu, semua penumpang diminta untuk bersiap siap, untuk masuk ke pesawat.
Rahne : “Pesawat sudah menungguku, karena kata-katamu, langit tak lagi menurunkan hujan padaku, tapi senyum yang berkepanjangan”
Zarry : “Kau, telah memasang nyawa di tiap jari tanganku. Nikmati perjalananmu, sebab kau perjalananku. Hati hati, hati”
Rahne : “Kaulah waktu yang ditetapkan, mengitari hidupku, memutari mataku, dan bersarang di hatiku” Kuangkat kopor dan kulangkahkan kaki beranjak dari ruang tunggu itu. Persiapkan senyummu, Zarry. Sambut aku di kotamu



-Zarry Hendrik-