Aku lelah berandai-andai memaksakan kehendakku atas perasaanmu yang tak kunjung ku tau. Aku lelah merasa yakin, berbaik sangka padamu melawan semua tuduhan atas dirimu. Masih ada seklumit keyakinan di sini, hatiku, tentang janji yang mungkin akan kamu tepati suatu waktu nanti, entahlah.. untuk berharap pun aku sungguh tak berani..
Pernah sekali, aku benar-benar memasrahkan hatiku dalam perih yang tak akan pernah kau mengerti. Bagaimana caraku menerima semua yang ada padamu meski harus bersebrangan dengan kebiasaanku, aku tak tau malu untuk memperjuangkanmu, hingga pada malam itu akhirnya kamu yang memutuskan untuk berhenti. Aku tak lagi aku. Aku tak lagi sama seperti yang dulu. Untuk orang yang baru kukenal sepertimu, kamu berhasil membawa kabur lima-perenam hatiku. Nyaris tak bersisa. Nyaris logikaku tak lagi berguna. Nyaris saja aku mati dalam sakit hati. Tapi aku masih mempercayaimu sebagai lelaki. Lelaki tak akan ingkar janji bukan? Aku tau, kamu pasti lelaki.
Bukankah hati tak akan ingkar janji? Yang ada hanya setan di kepala yang membuat kita lupa. Bahwa kita pernah sama-sama berjanji.
Aku menyerah dan kalah dalam perih yang tak kunjung lelah menjarah. Bukankah dulu kamu pernah berjanji untuk tidak pergi? Tapi sekarang malah aku yang tak bisa memintamu kembali. Coba berikan saja hatiku lagi. Sama saat dulu aku belum tau indahnya berada dalam kisah hidupmu.
Aku pernah senang sekali digenggamanmu. Hingga akhirnya pelukanmu menjadi candu. Dan diciummu menjadi semacam narkoba jenis terbaru. Menyenangkan, menenangkan, dan mengawangkan. Aku pernah girang ketika dicemburui masalalumu karna setelah dia, akulah yang akhirnya mampu menatap matamu setiap waktu. Aku tak pernah tau persis bagaimana perasaanmu waktu itu, tapi yang aku tau, aku benar menempatkanmu menjadi semestaku walaupun hingga akhirnya kamu yang menghancurkan hingga serupa debu pun tak bisa. Ahh, kamu terlalu faseh bicara cinta dihadapan gembala yang baru saja kehilangan seluruh ternak cintanya pula. Aku dibawa mengunjungi surga, tapi akhirnya harus rela ketika kembali ke dunia, tanpamu ada.
... Aku cinta kamu
Kata-kata tentang separuh maupun seluruh cintaku rasanya tak berhenti mengerubungi buku di kepalaku. Ada banyak yang harus aku tuliskan di sana. Ada banyak pertanyaan yang harus terjawab di sana. Di tempat bernama kepala. Segala tumpah ruah di sana.
Di hati lebih lagi. Segala bagai banjir bandang di sana. Perasaan cinta, luka, kecewa, iba, bertahan, melepaskan, sakit, bahagia, tawa, lara saling taut bagai benang kusut.
Ahh,, aku lupa bahwa segala yang ada adalah yang tak ada. Tuhan, selamatkan aku dr jebakan yang mahadahsyat bernama cinta. Karna cinta yang tak ada jebakannya hanya cinta padaMu
-AntengRLalanissa-