Rabu, 25 Februari 2015

Ini ceritaku. Mana ceritamu?

Aku membuat sebuah cerita.

Kubuat aku menjadi tokoh utama.

Seorang gadis desa biasa yang berkali-kali patah karena cinta.

Kubuat aku memiliki cerita di dalam cerita yang kubuat.

Dalam cerita yang ada di dalam ceritaku,

Aku menemukanmu.

Seorang lelaki yang entah siapa aku belum tahu.

Aku jatuh cinta.

Tak peduli kau pangeran atau rakyat biasa.

Kau ada dan aku bahagia.

Aku bahagia dan hanya tahu bahagia

Walaupun tak kutahu isi hatimu bagaimana.

Dalam cerita yang ada di dalam ceritaku

Menemukanmu adalah mauku.

Dalam ceritaku...

Aku memang menemukanmu.

Aku jatuh cinta.

Tak peduli kau pangeran atau rakyat biasa.

Aku bisa membuatmu seolah raja.

Dalam ceritaku..

Aku menuliskan akhir yang sesuai mauku.

Aku gadis desa biasa

Yang menjadi pilihanmu

Dan kamu adalah apa yang Tuhan pilihkan untukku.

Itu ceritaku.

Itu cerita dalam ceritaku.

Mana ceritamu?



-Antengrlalanissa-

Selasa, 24 Februari 2015

Katakanlah..

Katakanlah untukmu, minatku ada.
Tersedia dengan suka rela.
Tak ada tapi-tapi. Semua memang ada.

Katakanlah untuk tawamu, jenakaku ada.
Konyol di depanmu aku siap sedia. Bahkan, tak perlulah kamu sampai meminta.
                                               
Katakanlah untuk sepimu, aku mencoba ada.
Menemanimu lewat kata demi kata. Maaf saja, di dekatmu aku belum bisa.

Katakanlah untuk sibukku, kamu selalu di kepala.
Menggedor-gedor tiap pintunya sampai aku harus mengikat tanganku agar tak selalu membukanya.

Ya.. banyak katakanlah-katakanlah yang aku sediakan untukmu.
Siap sedia untuk segalamu.
Tak ada tapi tapi dariku.
Tetapi kamu?
Untukku.. ada entah berapa tetapi yang kamu punya.
Aku sampai tak berani menghitungnya sebab takut tahu jumlahnya.

Bagimu, segala tapi-mu itu pantas untukku.
Buatku, segala tapi untukmu itu tak perlu.
Sebab untukmu, meski tak ada alasan aku tetap bertahan.
Untukku, meski kubuat berbagai alasan, kamu tak akan mengiyakan.

Katakanlah aku akhirnya mampu bosan.
Setelah ini mungkin aku pergi. Kulihat,  pulangku bukan untukmu. Sedang hatimu... bukanlah rumahku.

-Antengrlalanissa-

Jumat, 20 Februari 2015

Untuk Semestaku di Dunia

Assalamualaikum ma, pak..

Aku sedikit menulis untukmu.
Tulisan ini ntah bisa kusebut puisi atau doa atau apalah itu namanya. Yang jelas kutulis ini dengan rindu mengiringinya.

Kubilang padaku, ma..
Jangan kalah untuk membuatmu tak marah.
Kubilang padaku, pak..
Tak boleh manja untuk membuatmu bangga.
Kubilang padaku, dek..
Janganlah aku menjadi panutan tidak baikmu.

Sebab andai seluruh dunia ini menjauhiku, maka aku tau akan selalu ada hati yang menerimaku.
Sebab andai tak ada lagi yang mau menemaniku, maka akan selalu ada dadamu sebagai tempat kembaliku, ma.
Sebab andai tak ada lagi yang mau bersamaku, maka akan selalu ada pundakmu yang jadi sandaranku, pak.
Sebab andai tak ada lagi yang mau menjadi hal baikku, maka akan ada tawamu disana yang menguatkan aku, dek.

Aku tak perlu meragu bukan?

Bukankah sejauh apapun adok pergi nanti..
Tetap pelukan mama dan bapak sebagai tempat kembali.
Senyata-nyatanya bahagiaku karena mewarisi darahmu.

Maaf, ma pak..
Untuk menuamu yang belum ada senyum karenaku.
Maaf, untuk gurat di kening dan telapak tanganmu sedang aku belum mampu mengembangkan bahagiamu.
Aku sayang kalian melebihi semesta tempat kita hidup dan mati.

Dan Tuhan,
Sujud seumur hidup pun rasanya bersyukurku tak cukup kepada-Mu.
Atas berkat yang membuatku ada dicerita ini..

Terima kasih untuk memilihkan kedua orangtuaku dan adikku.
Terima kasih untuk laluku, sekarangku, dan nantiku.
Terima kasih untuk aku.
Terima kasih untuk keluargaku.
Dan terima kasih untuk hidupku.

Catatan : Ma, pak.. terima kasih untuk nama ini :)
Aku suka.

Rabu, 18 Februari 2015

Untukmu, Tungguku Tersedia

Untung saja pengunjung sedang sepi sehingga aku bisa mengajak Binar ke tempat duduk favoritku. Di pojok ruangan, yang sinarnya lemah berpendar.

“Gimana? Sudah tenang sekarang?”

“Terima kasih ya, Bara. Aku ngga tahu kalo ngga ada kamu, aku mau ngubungin siapa.”

“Kamu ngga perlu ngubungin siapa-siapa, Nar. Kan ada aku.”

“Ah, Kamu bisa aja.”

Sekali lagi aku jatuh cinta. 

Berkali-kali, bahkan sampai tak bisa kuhitung lagi. Kudengar ada nasihat berkata, jika kamu hendak membuat seseorang jatuh cinta, maka buatlah ia tertawa. Tetapi ketika wanita ini tertawa, akulah yang satu-satunya telah jatuh cinta. Sejak sekian lama.

“Bar, sudah cukup rasanya Deva mempermainkan hatiku. Aku tak ingin dia kembali.”

“Kupikir ada baiknya kamu menenangkan diri, Nar. Aku tahu aku ngga akan pernah setuju pada tindakan Deva. Tetapi aku juga ...”

Hening.

“Aku juga? Apa?”

“Ah, bukan apa-apa Nar. Kamu mau minum apa?”

“Aku cuma mau tahu apa yang tadi mau kamu bilang ke aku.”
Aku menghela napas.

“Aku sayang kamu, Binar. Sejak lama. Sejak kita sekelas di SMA.”

Kulihat Binar terperanjak.

“Bukan. Bukan maksudku bahagia melihat kamu meninggalkan Deva. Aku hanya bersyukur kamu tak mesti lagi terluka.. Nar, jawab aku...”

“Bara, kamu mau jawaban yang seperti apa?”

“Aku mau kamu. Bukan mau jawabanmu, Nar.”

“Aku perlu waktu.”

“Dan aku siap menunggu. Untuk kamu, menunggu itu caraku mencintaimu.”

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com#TiketBaliGratis.

Kamu bukan Kamuku Lagi




Sontak semua mata pengunjung yang sedang makan siang di sini melihat ke arah kami.

“Astaga, kasihan sekali wanita itu.”

“Apa yang lelaki itu lihat dari wanita itu. Jelas saja kekasihnya lebih cantik parasnya.”

“Namanya juga lelaki buaya. Pasti hanya senang mencari lubang buaya.”

“Kasihan sekali wanita cantik itu, menangis hanya untuk lelaki seperti itu.”

“Jika disia-siakan lelaki seperti itu, sebaiknya denganku saja.”

“Pasti terlibat cinta di kantor” Ucap seorang yang duduknya paling dekat dengan meja kami. 

“Pasti hanya untuk teman kencan semalam.”

Aku berdiri menatap Deva yang saat ini kuyup di hadapanku bersama wanita entah siapa yang sedari tadi ditatapnya mesra.

“Sudah Mbak, kalau itu aku, sudah kutampar dari tadi.”

Aku menatap Deva yang tak bersuara.
Aku menatap wanita itu yang tak berani angkat kepala.

“Deva, jangan pernah pulang padaku. Selamanya!”


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.


Jumat, 13 Februari 2015

Untuk Kamu-ku..

Selamat pagi, 14 Februari..
...
Selamat pagi, Kamu..

Aku ingin bercerita, pagi ini pagiku ramai sekali.. Ya, ramai.. sebab rasanya bunga-bunga yang selama ini bermekaran di hati menuntut bisa keluar dari kepala. Mengunjungimu lewat kata-kata mesra yang nyata. Menghadiahimu hatiku. Memintamu menjadi semestaku. Tapi aku belum seberani itu, pikirku.

Pagi ini, aku ingin memberitahumu sesuatu.. maaf jika terasa agak tergesa, tetapi kupikir, aku tak bisa tak rinci menjelaskannya. Untukmu, aku mau menulis hatiku.

Ini pengakuanku..

Aku kira aku sudah jatuh cinta. Padamu. Pemilik senyum manis dan tatap mata malu-malu yang membuat rongga perutku disesaki kupu-kupu. Jika kamu pikir aku berlebihan, mungkin itulah kelebihanku menggambarkanmu. Tetapi itu nyata, senyata-nyatanya rasa yang muncul tiba-tiba sejak pertama menatap wajahmu walau tak lama. Aku pikir sampai batas aku mampu berpikir bahwa mungkin jatuh cinta padamu itu takdir.

Aku suka kamu. Suka senyummu. Suka tatapmu. Suka ekspresi wajahmu. Suka cara berbicaramu. Suka gaya rambutmu. Suka dudukmu. Suka berdirimu. Suka diammu. Suka malu-malumu. Suka tawamu. Suka bingungmu. Suka suaramu.. Ahh, aku pikir aku suka semuamu. Apapun itu yang ada di dirimu, tanpa terkecuali.

Sedikit kusadar aku suka, lantas menggebu aku jatuh cinta. Malam itu, ya.. aku tahu aku jatuh cinta, padamu, pemilik senyum manis yang memaniskan hatiku.

Aku memang jatuh cinta dan pada hatimu aku mengiba, tetapi jujur ini tidak bisa lama-lama.. aku memang tidak bisa langsung memintamu untuk menjadi duniaku, tetapi aku sedang merayu Tuhanku, barangkali Ia berkenan menghadiahiku hatimu, hidupmu, dan masa depan kita, padaku.

Kubilang aku tak bisa jatuh cinta berlama-lama.

Memang, ya..
Aku takut Tuhanku cemburu. Andai memang namamu yang tertulis di Lauful Mahfuz sebagai imamku, izinkan aku memantaskan diri terlebih dulu. Agar kelak saat hati kita bertemu, maka aku adalah apa yang kamu mau dan perlu. Tak perlulah berharap setinggi itu menjadi bidadarimu, cukup menjadi makmummu yang berdiri dan meng-aamiin-kan semua doamu, berdiri di belakangmu, mendengarkan keluh-kesahmu, memeluk di tiap gelisahmu, dan menuju JannahNya denganmu..

Sungguh, aku mau yang seperti itu. Bukan keinginan yang egois biasa memilikimu sementara waktu.. tetapi inginku lebih egois dari itu. Memintamu menjadi rekan hidupku menapaki setapak demi setapak waktu menuju akhir hidup kita berjumpa dengan-Nya.

Aku malu menulis ini, sejujurnya.
Tetapi tak apa, sebab pagi ini aku selangkah lebih maju untuk melukiskan hatiku tentangmu. Aku tahu aku wanita.. tetapi tak salah kan jika aku menuliskan surat ini untukmu, lelaki yang dengan tatapnya saja membuat aku bahagia?

ahh, sudahlah.. tak elok terlalu banyak kata. Jika Tuhan belum berkenan membuatmu ada dipelukan, setidaknya Ia tak keberatan membiarkan aku memelukmu lewat doa. :)

Sekian, kamu-ku..

Semoga harimu menyenangkan dan segala sesuatu yang baik selalu mengelilingimu. Aamiin.

-Antengrlalanissa-


Selasa, 10 Februari 2015

Iya-in Aja

Kamu akan ada ketika Tuhan berkata kamu harus ada.
Kamu tak akan ada ketika Tuhan berkata kamu tak harus ada.
Aku menginginkanmu ada, tetapi Tuhan bilang kamu tak perlu ada, maka kamu tak akan ada.
Sedang kamu akan ada dengan sendirinya ketika Tuhan tahu aku butuh kamu ada.
Maka yang perlu aku lakukan adalah mempersiapkan temu denganmu ketika Tuhan menganggap kita telah saling perlu.

-Antengrlalanissa-

Minggu, 08 Februari 2015

Rindu Tlah Mati

Selamat malam, kamu..
Yang pada malam-malam lalu kupeluk dengan rindu, tetapi hari ini kubilang "tidak lagi.."

Malam ini hujan.. aku kesepian..
Dan sempat rindu itu mengharapkan teman, tetapi kutahan..
Bukankah sakit jika rindu itu tak terbalaskan?
Bukankah letih jika rindu itu tak tersampaikan?
Dan bukankah lelah jika rindu itu... sendirian?
...
...
Rinduku ini bertuan..
Tetapi tak berteman..
Semacam tak ada pelukan yang jadi tempatnya pulang.
...
Rindu ini terabaikan.

Aku diam sejenak..
Tiba-tiba Hati bersuara.. "Aku rindu, dia. Bolehkah?"..
Aku diam.
Pikiran menjawab.. "Tidakkah lelah? Tidakkah engkau ingin menyudahi? Tidakkah aku yang tahu sakitmu ketika segala rindu beserta anganmu menguap begitu saja?"
Hati berkaca-kaca.. lantas dengan suara bergetar ia bertanya.. "Aku harus apa?"
Pikiran diam dan tersenyum. Sejenak menarik napas kemudian berkata "Tidakkah kamu bosan?" :)
...
Hati tertunduk.. lantas lirih ia berujar.. "Lelah.... sekali.."
...
Pikiran diam.. menatap Hati.. bangkit. Memeluk.. Lantas berbisik.. "Mari pergi. Rumahmu bukan di sini.. Jika dia, maka dia akan ada, nantinya. Jika bukan dia, setidaknya kau pernah bahagia merinduinya.."
...
Aku diam.
Hati diam.
Pikiran diam.
...

Dan rindu pun menguap diam-diam..
Aku...
Terselamatkan.

-Antengrlalanissa-

Rabu, 04 Februari 2015

Untuk Lelaki yang Baru Kutahu

Selamat sore, Kamu.. 
Lelaki yang baru kutahu awal tahun baru lalu. :))
Sedang apa? Yang pasti tidak sedang mengingatku kan? :)) Siapalah aku yang mendadak berharap sekali bermain di pikiranmu. Haha. aku tahu, terkadang aku selucu itu.

Cepat sekali ya waktu berlalu. Tak terasa sudah berganti jadi bulan kedua, tetapi ada satu hal yang membuatku bersyukur di tahun baru, sebab aku kenal kamu..
Sejujurnya perkenalan ini memang masih sangat muda. Belum juga kita saling menatap wajah satu dan yang lainnya. Hanya saja, sempatlah kita bertukar sapa sambil sesekali bercanda dan bertukar cerita. Haha.

Entah kenapa rasanya senang sekali aku menulis surat ini untuk kamu, sebab ini pertamaku dan ini untuk kamu. Haha. Padahal siapalah kamu. Aku hanya tahu wajahmu lewat sebuah gambar di media sosialmu. Aku hanya tahu sedikit tentangmu dari beberapa rekanku yang mengenalmu. Dan aku merasa sudah tahu kamu sejak sapa kita pertama kali. Selain aku lucu, memang terkadang aku juga sok tahu.

Sudahlah.. Aku tak tahu harus menulis apa lagi di surat ini. Sebab tak bagusnya aku merangkai kata buatmu, hanya saja sudah kupastikan yang kuceritakan di sini adalah kamu. Ya, Kamu.. yang kamu sendiri saja tak tahu kalau ini buatmu...
Sebab Kamu itu aku dan Tuhanku saja yang tahu.. supaya rahasia, dan tak ada yang mau tahu tentangmu kecuali aku.. :)))

Terima kasih sudah membaca suratku.

Dari aku yang sejak pertama disapa kamu langsung jadi pengagummu.

HAHA...
(lemah sekali hatiku atau kuat sekali pesonamu?? entahlah -___- ..)

Sudah-sudah. terima kasih sudah membaca suratku ya, kamu.. :)))

-Antengrlalanissa-