Perempuan Perindu : Untuk sebuah rindu, kupikir ego itu debu. Katamu juga rindu, nyatanya egomu terlalu. Dimana rindunya? Di bibir saja?
Lelaki Perindu : Kadang sebuah tanya ingin kuungkap... Apakah aku masih candumu?
Bila iya, apakah kau tak rindu candumu?
Perempuan Perindu : Aku rindu. Sempat rindu itu juga kupertanyakan. Tetapi tak datang jawaban darimu. Seolah rindu ini tak ada artinya.
Lelaki Perindu : Rindumu seakan sesuatu yang bisa berlalu, sedangkan aku butuh lebih dari sekadar kata rindu, aku rindu yang lebih jadi ego sekarang, aku menuntut rindumu..karena aku pun rindu yang dalam...masihkah aku candumu?
Perempuan Perindu : Kau bertanya, "Masihkah aku candumu?" Sedang selama ini kau hilang? Pikirmu hati ini apa? Pelarian? Atau hanya sebatas sandaran? Sedang aku menunggu pada tiap detik-detik yang telah berlalu. Terlalu lama.
Lelaki Perindu : Sedetikpun aku tidak bersembunyi apalagi hilang...bukankah aku datang sekarang? Tidak pernah terbesit sedikitpun aku menganggapmu seperti yang kau katakan, maaf bila egoku terlalu besar dari rindumu, tapi aku mengakui, aku juga rindu kamu.
Perempuan Perindu : Rindu ini setiap hari memadat membatu. Kupecahkan saja dia agar kembali menjadi debu. Jadi tak akan lagi kurasa rindu. Sebab rindu ini membuat hati tak lagi sehat menurutku.
Lelaki Perindu : Pecahkan saja rindumu. Buat ia menjadi debu. Sedang aku dengan kerendahan hati yang meninggi menyatakan bahwa aku perindu ulung yang menang perkara merinduimu.
Perempuan Perindu : Aku telah lama menang sedang saat itu kau hilang. Kini kau datang, dan rindu ini hilang. Seimbang, bukan?
Lelaki Perindu : Aku tak hilang. Terserah kau. Kau datang dan hilang, rinduku tetap untuk kau seorang. Silahkan pergi, jika nanti lelah ke mana-mana, temui lagi aku di sini. Dirindu yang masih untukmu.
Perempuan Perindu : Jangan menunggu. Mungkin aku tak kembali.
Lelaki Perindu : Kamu akan kembali. Walau tidak sebagai pelengkap jalan cerita hidupku, tetapi kau selalu sebagai penggenap rindu.
Untuk kamu, rinduku abadi.
Perempuan Perindu : Untukmu, rinduku kubiarkan mati.
Lelaki Perindu : Untukmu, rinduku hidup sendiri.
Perempuan Perindu : Untukmu, tak ada lagi 'untukmu-untukmu'. Aku pergi.
Lelaki Perindu : Jangan lupa. Aku rumahmu.
Perempuan Perindu : :))
*Hati Perempuan Perindu : Aku pulangmu, lelakiku. *
-Antengrlalanissa-
2 komentar:
sip (y)
Makasi brian :))
Posting Komentar